Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Indonesia-Singapura Perkuat Kerja Sama Strategis, BBK dan Investasi Jadi Fokus Utama
Oleh : Redaksi
Sabtu | 23-05-2026 | 14:28 WIB
SoD.jpg Honda-Batam
Delegasi RI-Singapura menandatangani Summary of Discussion (SoD) yang akan menjadi acuan pelaksanaan The 16th Indonesia-Singapore Six Economic Bilateral Working Group Ministerial Meeting pada Juni 2026 mendatang. (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Singapura kembali memperkuat hubungan ekonomi bilateral melalui pertemuan The 13th Senior Official Meeting of The Six Economic Bilateral Working Group (SOM 6WG) yang digelar pada Kamis (21/5/2026).

Pertemuan tersebut dipimpin Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi, bersama Permanent Secretary Ministry of Trade and Industry Singapura, Beh Swan Gin.

Forum itu membahas evaluasi sekaligus penguatan kerja sama ekonomi bilateral di enam kelompok kerja strategis, yakni Working Group (WG) Batam, Bintan, Karimun (BBK) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), investasi, transportasi, pariwisata, ketenagakerjaan, serta agribisnis.

Deputi Edi menegaskan, kerja sama Indonesia dan Singapura harus diarahkan untuk menjawab tantangan global yang semakin dinamis, termasuk ketidakpastian ekonomi dan politik internasional. "Kerja sama Indonesia dan Singapura perlu diarahkan kepada upaya menjawab tantangan perkembangan dunia di sektor strategis seperti kawasan industri yang berkelanjutan, pengembangan infrastruktur digital, ekonomi hijau, teknologi pertanian, dan pengembangan talenta-talenta digital," ujar Edi.

Dalam sektor BBK dan KEK, pemerintah menyoroti terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2025 tentang perluasan kewenangan perizinan BP Batam serta PP Nomor 47 Tahun 2025 terkait perluasan kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam dari delapan menjadi 22 pulau.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk memangkas birokrasi dan meningkatkan daya tarik investasi di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun. Namun di sisi lain, percepatan investasi juga dinilai menuntut penguatan pengawasan tata kelola agar perluasan kewenangan tidak memunculkan persoalan baru di lapangan.

Selain regulasi, kedua negara juga menyoroti keberhasilan penyelenggaraan The 2nd Islands of Growth: BBK Investment Forum di Singapura pada November 2025 yang dihadiri sekitar 120 peserta sebagai forum promosi investasi kawasan BBK.

Ke depan, WG BBK juga akan memperkuat layanan keimigrasian melalui penyempurnaan informasi visa, pembentukan pusat layanan telepon imigrasi 24 jam, serta memperjelas implementasi regulasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).

Dalam sektor investasi, Indonesia dan Singapura memperkuat kolaborasi pada lima sektor prioritas, yakni pengembangan infrastruktur industri, ekonomi hijau, layanan kesehatan, agribisnis, dan promosi investasi.

Salah satu proyek yang menjadi perhatian ialah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terbesar di Indonesia oleh Sembcorp bersama PT SESNA di kawasan IMIP, Sulawesi Tengah, dengan kapasitas 200 MW dan nilai investasi mencapai USD 210 juta.

Selain itu, kerja sama pengembangan bio-metanol antara NUS, CRecTech, dan Pertamina di Sumatera Utara disebut menjadi langkah awal pengembangan rantai energi hijau baru di Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan impor metanol.

Pada sektor transportasi, kedua negara membahas penguatan konektivitas udara dan kerja sama antara Garuda Indonesia dan Singapore Airlines. Sementara di sektor maritim, Indonesia dan Singapura menargetkan penandatanganan nota kesepahaman baru pada 2027 bertepatan dengan 60 tahun hubungan bilateral kedua negara.

Di bidang ketenagakerjaan, kerja sama diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia, program pertukaran pelatihan, hingga pengembangan talenta digital dan program Tech X.

Sementara itu, pada sektor agribisnis, kedua negara melanjutkan penguatan kerja sama perdagangan pertanian dan implementasi Memorandum of Understanding (MoU) bidang keamanan pangan dan teknologi pertanian.

Permanent Secretary Beh Swan Gin menegaskan komitmen Singapura untuk terus menjaga kemitraan strategis dengan Indonesia, terutama dalam mendorong pertumbuhan industri dan transisi ekonomi hijau. "Kami meyakini bahwa pertemuan ini akan semakin mempererat hubungan kemitraan kedua negara melalui implementasi kerja sama konkret untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif kedua negara," ujar Beh Swan Gin.

Deputi Edi juga mengapresiasi dukungan Singapura dalam pelaksanaan berbagai program kerja sama yang telah disepakati kedua negara. "Penguatan kerja sama Indonesia-Singapura dalam kerangka 6 WG diharapkan dapat membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas dan saling menguntungkan," katanya.

Secara statistik, Singapura masih menjadi salah satu mitra ekonomi utama Indonesia. Nilai perdagangan kedua negara pada 2025 tercatat mencapai USD 32,8 miliar dengan tren pertumbuhan positif 3,9 persen dalam lima tahun terakhir.

Di sektor investasi, Singapura tetap menjadi investor asing terbesar di Indonesia dengan total investasi mencapai USD 75,5 miliar selama lima tahun terakhir dan diklaim berkontribusi terhadap penciptaan lebih dari 820 ribu lapangan kerja.

Di akhir pertemuan, kedua delegasi menandatangani Summary of Discussion (SoD) yang akan menjadi acuan pelaksanaan The 16th Indonesia-Singapore Six Economic Bilateral Working Group Ministerial Meeting pada Juni 2026 mendatang.

Editor: Gokli