Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,25 Persen, Rupiah Tertekan Dampak Konflik Timur Tengah
Oleh : Aldy
Kamis | 21-05-2026 | 14:08 WIB
RGD-Mei-2026.jpg Honda-Batam
Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 19-20 Mei 2026. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Bank Indonesia resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 19-20 Mei 2026. Kenaikan suku bunga dilakukan di tengah tekanan global yang semakin kuat akibat konflik di Timur Tengah dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Selain BI-Rate, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6,00 persen.

Kebijakan tersebut diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam target 2,5+/-1 persen pada 2026 dan 2027.

Bank Indonesia menegaskan arah kebijakan moneter saat ini lebih difokuskan pada stabilitas ekonomi atau pro-stability, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

"Langkah ini diperlukan untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah meningkatnya tekanan eksternal akibat ketidakpastian global," demikian pernyataan BI dalam hasil RDG, Rabu (20/5/2026).

Tekanan terhadap Rupiah disebut semakin meningkat setelah perang di Timur Tengah memicu gejolak pasar global. Penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga minyak dunia melonjak dan mengganggu rantai pasok perdagangan internasional.

Kondisi tersebut berdampak pada perlambatan ekonomi global. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 turun menjadi sekitar 3 persen dengan inflasi global meningkat hingga 4,3 persen.

Situasi itu turut mendorong investor global menarik modal dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset aman seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat. Dampaknya, dolar AS menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

Bank Indonesia mencatat nilai tukar Rupiah pada 19 Mei 2026 melemah ke level Rp 17.700 per dolar AS atau turun 2,20 persen dibanding akhir April 2026.

Untuk meredam tekanan tersebut, BI memperkuat intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

BI juga menaikkan suku bunga instrumen moneter untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Di sisi lain, Bank Indonesia memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga melalui pertumbuhan uang primer di atas 10 persen serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.

Langkah penguatan juga dilakukan melalui kebijakan makroprudensial. BI memperluas pelonggaran Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dan meningkatkan insentif likuiditas bagi perbankan guna mendorong penyaluran kredit ke sektor riil. Kebijakan tersebut akan diterapkan secara bertahap mulai Juli hingga Agustus 2026.

Tidak hanya fokus pada stabilitas moneter, BI juga terus mempercepat digitalisasi sistem pembayaran nasional. Bank sentral menargetkan jumlah merchant QRIS mencapai 47 juta pada 2026.

Selain itu, konektivitas pembayaran lintas negara melalui QRIS Antarnegara terus diperluas, termasuk kerja sama terbaru antara Indonesia dan Tiongkok setelah sebelumnya terhubung dengan Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan.

Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan juga memperketat pengawasan transaksi pembelian dolar AS dalam jumlah besar guna menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Di tengah tekanan global, ekonomi Indonesia justru menunjukkan pertumbuhan yang relatif kuat. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan, meningkat dibanding triwulan IV 2025 yang sebesar 5,39 persen.

Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga saat Hari Besar Keagamaan Nasional, peningkatan belanja pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemberian tunjangan hari raya (THR), serta peningkatan investasi bangunan dari Program Kerja Prioritas Nasional.

Meski demikian, BI mengakui tekanan mulai terlihat pada neraca pembayaran. Surplus neraca perdagangan turun dari 7,6 miliar dolar AS menjadi 5,5 miliar dolar AS pada triwulan I 2026. Selain itu, aliran modal asing juga sempat mencatat net outflows sebesar 0,8 miliar dolar AS.

Sementara itu, inflasi domestik masih berada dalam level terkendali. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 3,48 persen.

Dari sektor perbankan, pertumbuhan kredit tetap solid di level 9,98 persen pada April 2026 dengan kondisi permodalan yang kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat 25,09 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level rendah, yakni 2,14 persen bruto.

Aktivitas ekonomi digital juga terus meningkat. Volume transaksi pembayaran digital pada April 2026 mencapai 5,15 miliar transaksi atau tumbuh 42,86 persen secara tahunan. Transaksi QRIS bahkan melonjak 108,43 persen seiring bertambahnya pengguna dan merchant di berbagai daerah Indonesia.

Editor: Gokli