Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Saat Wukuf, Jemaah Haji Hindari Sikap yang Merusak Pahala
Oleh : Saibansah
Rabu | 20-05-2026 | 09:08 WIB
kyai-lirboyo.jpg Honda-Batam
Pengasuh Ponpes Lirboyo Jawa Timur sekaligus Musyrif Diny Kemenhaj RI, KH Abdullah Kafabihi Machrus Ali. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Makkah - Pengasuh Pondok Pesantren Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur sekaligus Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, KH Abdullah Kafabihi Machrus Ali, mengingatkan jemaah haji agar menghindari sejumlah sikap yang dapat mengurangi pahala ibadah saat wukuf di Arafah.

Dalam kegiatan Fadilah Amaliyah di Masyair Muqoddasah yang berlangsung di Mushala Kantor Daerah Kerja Makkah, Kantor Urusan Haji Indonesia, Senin (18/5/2026), Kiai Kafabihi menyebut sikap riya, ujub, dan sombong sebagai perilaku yang dapat merusak nilai ibadah.

"Riya atau pamer agar ibadah dipuji orang lain, kemudian ujub atau merasa diri paling hebat, serta sifat sombong dan takabur termasuk sifat al-muhlikat yang bisa merusak pahala," ujar dia.

Menurut Kiai Kafabihi, jemaah haji perlu menjaga keikhlasan dan kesabaran selama menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci. Ia juga mengajak jemaah untuk selalu berprasangka baik kepada Allah SWT.

"Apa pun yang terjadi harus diterima dengan ikhlas, sabar, dan ridha. Jemaah juga harus husnudzon kepada Allah dan tidak berprasangka buruk," katanya.

Selain itu, ia mengimbau jemaah agar mengurangi penggunaan telepon genggam saat wukuf di Arafah. Menurut dia, waktu wukuf sejak tergelincir matahari hingga Maghrib pada 9 Dzulhijjah merupakan waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.

Ia meminta jemaah memanfaatkan momen tersebut untuk memperbanyak doa, zikir, dan membaca shalawat.

"Kalau di Indonesia waktu mustajab biasanya malam hari, sedangkan di Tanah Suci saat wukuf di Arafah merupakan waktu dan tempat yang mustajab," ujar Kiai Kafabihi.

Dalam kesempatan itu, ia juga membagikan sejumlah amalan yang dianjurkan saat wukuf, di antaranya memperbanyak bacaan tahlil, istighfar, serta doa memohon kebaikan dunia dan akhirat.

Kiai Kafabihi mengajak jemaah menggunakan momentum wukuf untuk mendoakan diri sendiri, keluarga, para pemimpin, dan bangsa Indonesia.

"Gunakan kesempatan itu untuk berdoa sebaik mungkin agar kehidupan menjadi lebih baik," katanya.

Editor: Dardani