Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dari Bengkel Kecil, Muhammad Surdi Kini Jadi Sopir di Makkah
Oleh : Saibansah
Sabtu | 09-05-2026 | 08:28 WIB
0805_dari-bengkel-jadi-supir-mekah.jpg Honda-Batam
Muhammad Surdi, warga Indonesia asal Banten yang menjadi sopir bus Sholawat di Makkah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Makkah - Pagi itu, suasana di depan Al-Hidayah Tower, kawasan Aziziyah, Makkah, Arab Saudi, mulai ramai. Satu per satu jemaah haji Indonesia berdatangan menuju Bus Shalawat yang akan mengantar mereka ke Masjidil Haram.

Di tengah hiruk-pikuk persiapan keberangkatan, seorang pria bertubuh tegap berdiri di dekat pintu bus. Senyumnya tak lepas saat menyambut para jemaah yang naik ke kendaraan.

"Sehat, Pak?" sapanya hangat kepada setiap penumpang.

Pria itu bernama Muhammad Surdi (45), warga asal Lebak, Banten, yang kini bekerja sebagai pengemudi Bus Shalawat di Makkah. Dengan logat Banten yang masih kental, ia tampak akrab berbincang dengan jemaah asal Indonesia.

Sudah 15 tahun Surdi menjalani hidup di Arab Saudi sebagai mukimin. Namun jalan hidup yang membawanya hingga ke Tanah Suci tidak selalu mudah.

Ia berasal dari Kampung Lebaksiuh, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak. Demi mencari penghidupan yang lebih baik bagi keluarga, Surdi memutuskan merantau ke Arab Saudi sekitar 2011.

Sejak saat itu, hampir setiap musim haji ia terlibat dalam pelayanan jemaah Indonesia.

Bagi Surdi, pekerjaan sebagai sopir Bus Shalawat bukan sekadar pekerjaan biasa. Ada kebanggaan tersendiri karena bisa ikut membantu perjalanan ibadah para tamu Allah.

"Alhamdulillah, hampir setiap tahun ikut melayani jemaah," ujarnya saat ditemui di depan Al-Hidayah Tower, Sabtu (2/5/2026).

Namun pandemi Covid-19 sempat mengubah arah hidupnya. Ketika wabah melanda pada 2020, Surdi memutuskan pulang ke Indonesia.

Di kampung halamannya di Malingping, ia mencoba membuka bengkel motor kecil-kecilan. Pengalaman sebagai montir menjadi modal utama untuk bertahan hidup bersama keluarga.

Sayangnya, usaha tersebut tidak berkembang sesuai harapan. "Tiga tahun di rumah merintis usaha, tapi modal kecil," kata Surdi.

Kondisi itu membuatnya kembali mengambil keputusan besar: kembali merantau ke Arab Saudi.

Kesempatan datang ketika ia melamar pekerjaan di perusahaan transportasi yang melayani kebutuhan jemaah haji. Dari sanalah ia kemudian dipercaya menjadi sopir Bus Shalawat.

Kini, setiap hari ia mengantar jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram. Meski bus beroperasi hampir tanpa henti selama 24 jam, Surdi mengaku menikmati pekerjaannya.

"Alhamdulillah," ucapnya singkat sambil tersenyum.

Di balik kemudi bus, Surdi menyimpan rasa syukur lain. Selama bekerja di Arab Saudi, ia juga telah beberapa kali menunaikan ibadah haji secara resmi.

"Sudah sekitar empat kali haji," katanya.

Pada awal tinggal di Arab Saudi, Surdi sempat kesulitan beradaptasi, terutama karena belum memahami bahasa Arab. Namun perlahan ia belajar dari lingkungan dan pekerjaan sehari-hari.

Kini ia sudah terbiasa berkomunikasi dengan warga lokal maupun petugas lainnya.

Cuaca panas ekstrem di Arab Saudi juga pernah menjadi tantangan tersendiri bagi pria asal pesisir selatan Banten itu. Perbedaan suhu yang jauh dengan kampung halamannya membuat tubuhnya sempat kesulitan menyesuaikan diri.

"Kadang masih batuk karena panas, tapi sekarang sudah terbiasa," ujar Surdi.

Meski hidup jauh dari keluarga dan bekerja di tengah padatnya musim haji, Surdi tetap menjalani semuanya dengan tenang. Keramahan yang ia tunjukkan kepada para jemaah seolah menjadi gambaran tentang perjalanan panjang seorang perantau yang menemukan makna hidup di balik pekerjaannya.

Dari seorang montir bengkel di kampung kecil di Banten, Surdi kini menjadi bagian dari perjalanan spiritual ribuan jemaah Indonesia di Tanah Suci.

Editor: Dardani