Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ember Bawah Ranjang, 'Tabungan Sunyi' Jumaria Menuju Baitullah
Oleh : Saibansah
Kamis | 07-05-2026 | 09:48 WIB
0705_jamaah-Jumaria-P-Sire-Said.jpg Honda-Batam
Jumaria P Sire Said dengan sabar melayani wawancara dengan Tim MCH PPIH Arab Saudi 2026 di Madinah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Di sudut kamar sederhana di Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan, ada sebuah ember tua yang selama puluhan tahun menyimpan harapan dan mimpi perempuan tua.

Ember itu bukan sekadar wadah air atau perlengkapan rumah tangga biasa, tapi itulah 'tabungan sunyi' milik Jumaria P Sire Said, petani perempuan lansia yang menabung receh demi receh demi satu impian besar: naik haji.

Kini, di Madinah, langkahnya terasa lebih ringan. Dia menginap di hotel yang hanya dipisahkan lorong jalan selebar lima meter dengan 'rumah Rasulullah, Masjid Nabawi. Kerinduannya kepada sang kekasih Allah pun semakin membuncah.

Perjalanan panjang yang ia rajut selama 20 tahun akhirnya sampai di titik ini, Baitullah, yang selama ini hanya ia sebut dalam doa.

"Kalau sudah panen padi, saya jual, baru kusimpan," ujarnya dalam perbincangan dengan tim MCH PPIH Arab Saudi 2026 di Madinah, Rabu (6/5/2026).

Tidak ada rekening bank, tidak pula investasi rumit. Setiap hasil panen, setiap rupiah yang tersisa, ia sisihkan. Ember di bawah tempat tidur menjadi saksi ketekunannya menabung. Di sanalah uang demi uang ia kumpulkan, tanpa pernah tergoda untuk mengambilnya kembali.

"Tidak pernah saya ambil. Kalau butuh, ambil saja daun ubi, saya masak," katanya, menggambarkan kesederhanaan hidup yang ia jalani.

Bagi Jumaria, menabung bukan sekadar soal menyisihkan uang. Ini adalah 'tirakat' laku kesabaran tingkat tinggi. Ada hari-hari ketika hasil panen tak seberapa, ada pula masa ketika kebutuhan mendesak datang. Namun ember itu tetap utuh, tekad kuatnya tak tergoyahkan.

Kisahnya menjadi cermin tentang kemandirian finansial yang tumbuh dari kesadaran, bukan dari kelimpahan. Tanpa banyak bicara, ia membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih dari langkah kecil yang konsisten. Istiqomah.

Rekan sesama jemaah, Marwati, tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia menyaksikan bagaimana Jumaria mengumpulkan uang dari recehan hingga akhirnya mampu melunasi biaya haji.

Kini, di Kota Nabi, Madinah, Jumaria menjalani ibadah dengan fasilitas ramah lansia dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI. Ia menikmati setiap momen dengan penuh rasa syukur. "Seperti di rumah sendiri. Rasanya baik sekali. Saya syukuri semua," tuturnya.

Perjalanan Jumaria bukan hanya tentang menempuh jarak dari Maros ke Madinah. Ini adalah kisah tentang keteguhan hati, tentang doa yang disimpan lama, dan tentang ember kecil yang diam-diam mengantarkannya ke Baitullah.

Dan, tentang laku 'tirakat' kesabaran tak tergoyahkan. Tentang kesetiaannya pada sawah tempatnya menyemai harapan dan mimpi berziarah ke makam Rasulullah. Serta, memenuhi panggilan Allah SWT.

Labbaik Allahumma Labbaik. Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah.
Jumaria sudah menjawab panggilan Allah SWT melalui kekasihnya, Ibrahim alaihissalam itu.

Selamat datang di Madinah, Nenek Jumaria.

Editor: Dardani