Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Berusia 103 Tahun, Mbah Mardijiyono Jadi Jemaah Haji Tertua 2026
Oleh : Saibansah
Senin | 04-05-2026 | 08:28 WIB
0405_jemaah-haji-tertua-2026.jpg Honda-Batam
Mardijiyono Karto Sentono, warga Bantul Yogyakarta bersama Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Khalilurrahman. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Di antara ribuan jemaah haji gelombang pertama yang tiba di Kota Madinah, sosok Mardijiyono Karto Sentono mencuri perhatian. Warga Karanganom, Sitimulyo, Piyungan, Bantul Yogyakarta ini tercatat sebagai jemaah tertua dengan usia mencapai 103 tahun.

Pria kelahiran 1923 tersebut tetap menunjukkan semangat tinggi meski usianya telah melampaui satu abad. Dalam kesehariannya, Mardijiyono masih mampu beraktivitas secara mandiri, mulai dari berjalan hingga menjalankan ibadah, meski menggunakan alat bantu kruk dan melaksanakan salat dengan posisi duduk.

Kondisi fisiknya pun relatif prima. Perjalanan panjang dari Indonesia menuju Tanah Suci tidak tampak menguras tenaganya secara signifikan. Ia terlihat tetap bugar dan bersemangat menjalani rangkaian ibadah.

Saat ditanya mengenai rahasia umur panjangnya, Mardijiyono menyampaikan bahwa kunci utamanya terletak pada sikap hidup. Menurutnya, menjaga hati agar tetap gembira menjadi hal penting dalam menjalani kehidupan.

"Kuncinya selalu merasa gembira. Apa pun yang terjadi, dihadapi dengan hati yang senang," ujarnya.

Perjalanan hajinya tahun ini dijalani seorang diri. Ia sebelumnya berencana berangkat bersama sang istri, namun rencana tersebut batal setelah istrinya wafat lebih dulu. Meski demikian, niatnya untuk menunaikan ibadah haji tetap teguh.

Semangat Mardijiyono mendapat perhatian dari penyelenggara haji. Selama menjalankan ibadah di Tanah Suci, ia akan mendapatkan pendampingan dari petugas serta pembimbing ibadah.

Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Khalilurrahman, mengaku terharu melihat keteguhan dan semangat jemaah asal Bantul tersebut. Ia menilai Mardijiyono menjadi contoh nyata kekuatan tekad dalam menjalankan ibadah.

Sebagai bentuk perhatian, petugas haji diminta memberikan pendampingan penuh serta memastikan kondisi kesehatan Mardijiyono tetap terpantau selama di Tanah Suci. Langkah ini juga menjadi bagian dari komitmen pelayanan kepada seluruh jemaah agar dapat beribadah dengan aman dan nyaman.

Kini, keinginan lama Mardijiyono untuk beribadah di Tanah Suci akhirnya terwujud. Perjalanannya dari Piyungan hingga Madinah menjadi bukti bahwa usia dan keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang selama ada niat dan tekad yang kuat.

Kisahnya menjadi inspirasi tentang keteguhan hati dan keikhlasan dalam menunaikan rukun Islam kelima.

Editor: Dardani