Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kisah Dua Remaja Putri Jemaah Haji Kalten Tertahan Lima Jam di Imigrasi Madinah
Oleh : Saibansah
Minggu | 03-05-2026 | 13:32 WIB
jemaah_remaja)haji.jpg Honda-Batam
Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah bersama Petugas PPIH Arab Saudi 2026 di Bandara Internasional Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTOODAY.COM, Madinah - Waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah, Sabtu (2/5/2026) siang itu. Di ruang Imigrasi Bandara Internasional Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, dua remaja putri asal Pulang Pisang, Kalimantan Tengah, itu harus menunggu dalam ketidakpastian selama hampir lima jam.

Datang bersama rombongan jemaah haji dari Embarkasi Banjarmasin, langkah keduanya terhenti di pintu masuk. Proses pemeriksaan dokumen mendadak berubah menjadi situasi yang menegangkan, visa mereka terdeteksi bermasalah dan bahkan sempat dibatalkan secara sistem.

Jam menunjukkan pukul 12.00 waktu Arab Saudi ketika mereka mulai tertahan. Waktu bergulir, namun kepastian belum juga datang.

Di tengah kebingungan itu, rasa cemas tak terelakkan. Paspor mereka berada di tangan petugas, sementara akses untuk melangkah lebih jauh tertutup. "Awalnya panik, disuruh menunggu lama. Paspor juga tidak dipegang sendiri," ujar Novia, mengenang detik-detik yang membuatnya gelisah.

Namun, mereka tidak dibiarkan sendiri. Kabar tentang dua jemaah muda yang tertahan segera sampai ke telinga petugas. Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, bersama tim Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), bergerak cepat. Koordinasi dilakukan dengan KJRI serta Kementerian Haji dan Umrah.

Upaya demi upaya ditempuh. Komunikasi lintas pihak berlangsung intens, termasuk meminta bantuan dari Jakarta untuk melakukan validasi ulang visa yang sempat terhapus dalam sistem.

Perjuangan itu akhirnya berbuah hasil. Menjelang pukul 17.00 WAS, secercah kabar baik datang, visa keduanya berhasil diterbitkan kembali. Pintu yang sempat tertutup kini terbuka.

Raut tegang berganti lega. Senyum pun perlahan kembali.

"Alhamdulillah, senang sekali. Bisa masuk dan melanjutkan ibadah haji bersama keluarga," kata Novia, kali ini dengan suara yang lebih ringan, didampingi sang ibu.

Rabiatul Adawiyah merasakan hal yang sama. Degup jantung yang sempat berpacu kini mereda. Ia mengaku sangat terbantu oleh kehadiran petugas haji Indonesia dan dukungan dari pihak maskapai yang turut mendampingi.

"Deg-degan, tapi alhamdulillah ada bantuan. Terima kasih untuk semua yang sudah membantu kami," ujarnya.

Kisah singkat di pintu imigrasi itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi keduanya. Meski sempat terhambat persoalan administratif, semangat mereka untuk menunaikan ibadah haji tidak surut.

Bekal manasik yang telah diikuti serta pengetahuan yang mereka gali secara mandiri menjadi penguat langkah. Kini, setelah sempat tertahan, keduanya telah kembali bergabung dengan rombongan kloter dan menuju hotel di Madinah.

Di kota yang menjadi salah satu tujuan suci umat Islam itu, perjalanan mereka baru saja dimulai, dengan cerita tentang kesabaran, kecemasan, dan pada akhirnya, kelegaan yang datang tepat waktu.

Editor: Dardani