Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Panggung Keberagaman Hidup di Kota Perbatasan, PERCA Batam Rayakan Kartini Lewat Kebaya dan Seminar
Oleh : Aldy Daeng
Minggu | 03-05-2026 | 10:37 WIB
0305_hari-kartini-perca-batam.jpg Honda-Batam
PERCA Batam menghadirkan peringatan Hari Kartini yang tak biasa di One Batam Mall, Minggu (3/5/2026) (Foto: Aldy Daeng)

BATAMTODAY.COM, Batam - PERCA (Masyarakat Perkawinan Campuran Indonesia) Batam menghadirkan peringatan Hari Kartini yang tak biasa di One Batam Mall, Minggu (3/5/2026). Di tangan komunitas keluarga perkawinan campuran ini, kebaya, tarian, hingga balet berpadu di atas panggung, menyuarakan pesan kuat tentang keberagaman yang tumbuh dan dirawat bersama.

Acara yang didominasi penampilan anak-anak itu menampilkan ragam ekspresi seni, peragaan busana kebaya, tarian tradisional, balet, hingga acara talkshow. Hampir seluruh anggota PERCA Batam hadir mengenakan kebaya, menghadirkan nuansa elegan sekaligus simbol kuat penghormatan terhadap warisan budaya Indonesia di momen hari kartini.

Ketua PERCA Batam, Adryana Sea, menyebut momentum ini sebagai refleksi nyata dari semangat Kartini yang terus hidup dalam komunitas keluarga perkawinan campuran. "Hari Kartini bukan sekadar mengenang sosok beliau, tetapi tentang keberanian melampaui batas dan menyatukan perbedaan," ujarnya.

Menurutnya, keluarga perkawinan campuran adalah potret kecil Indonesia yang sesungguhnya, lahir dari pertemuan dua budaya, bahasa, bahkan kewarganegaraan. Namun, di situlah justru tumbuh kekuatan.

"Perbedaan bukan lagi penghalang, tetapi jembatan cinta dan saling menghormati. Dari keluarga-keluarga inilah lahir generasi yang memahami bahwa keberagaman adalah kekayaan," ujarnya.

Adryana Sea menjelaskan, PERCA Batam sendiri telah terdaftar resmi di Kementerian Hukum dan HAM melalui AHU dan merupakan bagian dari jaringan PERCA Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Jakarta, Bali, hingga mancanegara seperti Singapura. Sejak berdiri pada 2012, PERCA Batam menjadi perwakilan pertama di kota ini dan terus berperan sebagai mitra strategis pemerintah.

Peran itu diwujudkan melalui pendampingan hukum, sosialisasi aturan keimigrasian dan kewarganegaraan, hingga kegiatan sosial dan budaya. "Di Batam, merupakan wilayah perbatasan dengan mobilitas internasional tinggi. Kehadiran PERCA ini semakin relevan," ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam, Ardiwinata, menegaskan bahwa Batam memiliki modal kuat sebagai kota pariwisata sekaligus ruang interaksi budaya.

"Batam memiliki akses darat, laut, udara, dan konektivitas digital yang baik. Ini menjadikan Batam kota yang terbuka dan dinamis, termasuk dalam keberagaman masyarakat dan perkawinan campuran," ujar Ardi, dalam sambutannya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan Taman Budaya di Gedung Beringin sebagai ruang ekspresi bagi seluruh komunitas. "Silakan manfaatkan ruang itu untuk berkarya. Tampilkan seni budaya, libatkan keluarga dan anak-anak. Ini penting untuk memperkuat identitas budaya kita," katanya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan ekonomi kreatif yang memiliki 17 subsektor, mulai dari fashion, kuliner hingga perfilman, peluang yang dinilai sejalan dengan aktivitas komunitas seperti PERCA.

Ardi menjelaskan, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, melalui program prioritasnya, membuka ruang luas bagi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, termasuk bagi komunitas perempuan dan keluarga.

Dalam semangat Kartini, ia menekankan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan.

"Perempuan bukan hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga dalam pendidikan, ekonomi, dan kemajuan bangsa," pesannya.

Menjelang akhir acara, panggung kembali dipenuhi anak-anak dengan senyum lepas dan langkah percaya diri, sambil berfoto bersama.

Di balik kesederhanaan pertunjukan itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar, bahwa dari perbedaan, selalu ada cara untuk saling memahami.

Di Batam, melalui PERCA, kebaya dan balet menjadi bahasa yang sama, yakni merayakan keberagaman sebagai kekuatan.

Editor: Surya