Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Petani Bercaping Rajah Menggedor Arys dari Masjid Quba
Oleh : Saibansah
Minggu | 03-05-2026 | 10:09 WIB
0305_jemaah-haji-mbah-caping.jpg Honda-Batam
Mbah Musthofa, 66 tahun, setia dengan caping taninya mendarat di Bandara Internasional Pangeran Mohammed bin Abdulaziz Madinah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Langkah-langkah pelan itu menyusuri halaman Masjid Quba, Madinah. Di antara rombongan jamaah haji Indonesia yang turun dari bus city tour, Mbah Musthofa (66) berjalan dengan wajah yang menyiratkan takjub sekaligus haru. Apa yang dulu hanya ia dengar dari cerita dan layar televisi, kini menjelma nyata di hadapannya.

Bagi petani asal Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang itu, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perjalanan panjang yang dipenuhi doa dan kesabaran. "Saya dulu cuma dengar cerita, lihat di televisi. Sekarang bisa sampai di sini, alhamdulillah," ujarnya lirih.

Tanpa menunda waktu, ia langsung menuju tempat wudhu di sisi timur masjid. Air yang membasuh wajah dan tangannya seolah menjadi penegas bahwa dirinya benar-benar telah sampai di tempat bersejarah itu. Selepas itu, ia melangkah masuk dan menunaikan shalat dhuha dua rakaat, disusul shalat hajat dua rakaat.

Masjid Quba, yang diyakini sebagai masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam saat Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, memiliki keutamaan tersendiri. Keyakinan bahwa shalat di sana bernilai seperti umrah membuat Mbah Musthofa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

Di kepalanya, caping sederhana yang biasa dipakai bertani tetap bertengger. Bukan sekadar pelindung dari terik matahari Madinah, caping itu menyimpan makna yang lebih dalam. Di sana terukir tulisan Arab, rajah yang ia yakini sebagai pegangan hidup. Isinya adalah shalawat dan penggalan doa dari Surat Al-Fatihah: permohonan agar ditunjukkan jalan yang lurus, jalan para nabi dan rasul.

Caping itu menjadi simbol perjalanan hidupnya, tentang kerja keras, harapan, dan kepasrahan. Selama 13 tahun, ia menabung sedikit demi sedikit sejak mendaftar haji pada 2012. Nominalnya tak besar, kadang hanya Rp10 ribu, paling banyak Rp100 ribu.

Selain dari hasil bertani, ia juga mengandalkan ternak sapi sebagai tabungan. Dari enam ekor yang pernah dimilikinya, tersisa satu yang akhirnya dijual seharga Rp24 juta untuk melunasi biaya haji.

"Semua dari bertani," katanya sambil melepas capingnya sejenak, memperlihatkan wajah yang ditempa waktu dan kerja keras.

Ketika ditanya doa yang ia panjatkan di tanah suci, jawabannya sederhana, mencerminkan kepedulian yang melampaui dirinya sendiri. "Semoga saudara-saudara saya bisa segera menyusul ke Tanah Suci, selamat dunia dan akhirat."

Tak lama, panggilan kembali ke rombongan terdengar. Mbah Musthofa bergegas naik ke bus tanpa singgah membeli oleh-oleh. Perjalanannya di Madinah mungkin singkat, tetapi jejak doanya terasa panjang, mengalir dari sawah di Semarang hingga ke pelataran Masjid Quba.

Di bawah caping yang penuh rajah itu, tersimpan keyakinan sederhana: bahwa setiap langkah kecil, jika disertai doa dan ketekunan, pada waktunya akan sampai juga ke tujuan.

Editor: Dardani