Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Krisis Timur Tengah Tekan Ekonomi, Indonesia Dorong Ketahanan Energi dan Pangan
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 01-05-2026 | 13:08 WIB
airlangga-asean.jpg Honda-Batam
Menko Airlangga Hartarto dalam Special AEC Council Meeting on the Middle East Crisis yang digelar secara virtual, Rabu (30/4/2026). (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia menegaskan pentingnya penguatan kerja sama regional ASEAN untuk meredam dampak krisis Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi kawasan. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Special AEC Council Meeting on the Middle East Crisis yang digelar secara virtual, Rabu (30/4/2026).

Dalam forum yang mempertemukan para menteri ekonomi negara ASEAN tersebut, Airlangga menilai tekanan global semakin meningkat, mulai dari lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan.

"Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi negara-negara ASEAN untuk merespons tekanan global yang kian meningkat, mulai dari lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga risiko terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat," ujar Airlangga.

Indonesia, lanjutnya, mendorong langkah konkret untuk memperkuat ketahanan energi kawasan. Upaya tersebut meliputi diversifikasi sumber dan jalur pasokan energi, serta penguatan mekanisme cadangan energi regional. Selain itu, percepatan implementasi berbagai inisiatif strategis seperti ASEAN Power Grid (APG), ASEAN Petroleum Security Agreement, dan Trans-ASEAN Gas Pipeline dinilai krusial untuk mengurangi kerentanan terhadap guncangan eksternal.

Di sektor pangan, Indonesia menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasokan di tengah meningkatnya biaya logistik dan volatilitas harga pupuk. Optimalisasi ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve menjadi salah satu instrumen utama, disertai penguatan koordinasi serta sistem respons kawasan, khususnya untuk melindungi kelompok rentan.

Selain itu, pemerintah juga menyoroti perlunya penguatan rantai pasok regional melalui peningkatan konektivitas, efisiensi logistik, dan diversifikasi sumber energi, termasuk pengembangan bahan bakar alternatif berbasis potensi masing-masing negara anggota.

"Upaya-upaya ini perlu didukung dengan penguatan fasilitasi perdagangan, termasuk optimalisasi ASEAN Single Window, guna memastikan kelancaran arus barang dan menjaga daya saing kawasan," jelasnya.

Sejalan dengan posisi Indonesia, para menteri ekonomi ASEAN dalam pernyataan bersama menegaskan komitmen untuk memperkuat ketahanan kawasan melalui kolaborasi yang lebih erat, menjaga keterbukaan perdagangan, serta memastikan kebijakan yang terkoordinasi, terukur, dan berbasis aturan.

Pertemuan ini turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara ASEAN, antara lain Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Ma. Cristina Aldeguer-Roque, Menteri Keuangan dan Ekonomi II Brunei Darussalam Dato Dr Amin Liew Bin Abdullah, Menteri Perdagangan Kamboja Cham Nimul, hingga Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong.

Mendampingi Airlangga dalam forum tersebut, hadir Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Prio Pambudi serta Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Regional Bobby Chriss Siagian.

Editor: Gokli