Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

600 Ribu Kasus Kebutaan Katarak, Pemerintah Percepat Operasi Gratis dan Skrining Nasional
Oleh : Redaksi
Selasa | 28-04-2026 | 13:08 WIB
operasi-katarak2.jpg Honda-Batam
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, saat membuka bakti sosial operasi katarak di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Jumat (24/4/2026). (Foto: Kemenkes)

BATAMTODAY.COM, Kapuas - Indonesia menghadapi tantangan serius dalam kesehatan penglihatan setelah mencatat sekitar 600 hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak sepanjang 2025. Pemerintah menilai kondisi ini berpotensi menggerus produktivitas nasional, terutama pada kelompok usia lanjut.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan dampak katarak tidak hanya pada aspek medis, tetapi juga sosial dan ekonomi. "Jika katarak tidak ditangani, yang hilang bukan hanya penglihatan, melainkan juga peran sosial dan produktivitas mereka," ujar Dante saat membuka bakti sosial operasi katarak di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Jumat (24/4/2026).

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan katarak menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk usia di atas 50 tahun dengan proporsi mencapai 81,2 persen. Hasil skrining program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025-2026 juga menguatkan urgensi tersebut, di mana dari 23,35 juta orang yang diperiksa, sebanyak 2,95 juta mengalami gangguan penglihatan.

Dante menjelaskan, penderita katarak kehilangan hingga 80 persen akses informasi yang diperoleh melalui indra penglihatan. "Dunia yang dulu jelas perlahan menjadi buram. Penderita seolah kehilangan terang di sisa hidupnya," katanya.

Untuk menekan angka kebutaan, pemerintah mengintegrasikan skrining mata dalam program CKG 2026 serta memastikan layanan operasi katarak sepenuhnya ditanggung melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Selain itu, pemerintah menggandeng Noor Dubai Foundation dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia untuk memberikan operasi gratis kepada 500 pasien sepanjang Januari-Mei 2026. Program ini menyasar wilayah Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia dan ASEAN, Abdulla Salem Obaid AlDhaheri, menyebut kerja sama tersebut sebagai bagian penting dari hubungan bilateral kedua negara. "Layanan kesehatan adalah fondasi bagi martabat manusia dan pembangunan berkelanjutan," ujarnya.

Ia juga mengapresiasi peran dokter spesialis mata Indonesia dalam pelaksanaan program tersebut. "Seluruh prosedur dilakukan oleh spesialis mata Indonesia. Dukungan internasional yang memberdayakan keahlian nasional adalah model kemitraan paling efektif," tegasnya.

Sementara itu, Bupati Kapuas, Muhamad Wiyanto, menilai program operasi gratis ini sangat membantu masyarakat, mengingat biaya operasi mandiri dapat mencapai Rp 10 juta per mata. "Tahun ini meningkat menjadi 200 pasien. Ini menunjukkan tingginya kebutuhan sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap program ini," ungkapnya.

Dalam Peta Jalan Kesehatan Penglihatan 2025-2030, pemerintah menargetkan minimal 60 persen penderita katarak mendapatkan operasi dengan hasil optimal. Hingga 2025, kapasitas operasi nasional tercatat mencapai 634.642 pasien atau sekitar 92 persen dari target.

Langkah percepatan ini diharapkan mampu menekan angka kebutaan sekaligus menjaga produktivitas masyarakat di tengah tantangan kesehatan yang masih tinggi.

Editor: Gokli