Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Jemaah Haji Indonesia Menginap di Kawasan Strategis Dekat Masjid Nabawi
Oleh : Saibansah
Senin | 20-04-2026 | 20:36 WIB
2004_hotel-jemaah-haji-2026.jpg Honda-Batam
Kepala Seksi Akomodasi Daerah Kerja Madinah, Zaenal Muttaqin sedang mengecek kasur hotel tempat jemaah haji Indonesia di Madinah. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Kabar baik bagi jemaah haji Indonesia yang menjalankan ibadah di Madinah. Pada musim haji tahun ini, seluruh akomodasi jemaah dipastikan berada di kawasan Markaziyah, yakni area strategis yang terletak di dalam Ring Road dan berdekatan dengan Masjid Nabawi.

Kepala Seksi Akomodasi Daerah Kerja (Daker) Madinah, Zaenal Muttaqin, menyampaikan bahwa sebanyak 118 hotel telah disiapkan untuk menampung jemaah. Ratusan hotel tersebut tersebar di tiga kawasan utama yang terbagi dalam lima sektor layanan.

"Kawasan Markaziyah terdiri dari Syamaliah, Ghorbiah, dan Janubiah,” ujar Zaenal, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, kawasan Syamaliah mencakup Sektor 1 dan 2 dengan total 45 hotel. Sementara kawasan Ghorbiah meliputi Sektor 3 dan 4 dengan 50 hotel, serta kawasan Janubiah di bawah koordinasi Sektor 5 dengan 22 hotel.

Menurut Zaenal, kawasan Markaziyah merupakan lokasi yang menjadi incaran banyak negara karena kedekatannya dengan Masjid Nabawi. Tahun ini, Indonesia berhasil mendapatkan akomodasi di kawasan tersebut.

Dari sisi jarak, hotel-hotel yang ditempati jemaah tergolong sangat dekat. Jarak terdekat hanya sekitar 50 meter dari kompleks Masjid Nabawi, sedangkan yang terjauh mencapai 700 meter. Secara rata-rata, jarak hotel ke masjid berkisar 500 meter.

Kedekatan ini dinilai memudahkan jemaah dalam menjalankan berbagai ibadah, termasuk ibadah sunah seperti Arba’in, yakni salat berjamaah 40 waktu berturut-turut selama berada di Madinah.

Meski demikian, Zaenal mengingatkan bahwa pengaturan kamar disesuaikan dengan kapasitas masing-masing hotel. Hal ini memungkinkan jemaah dalam satu kelompok terbang (kloter) tidak selalu menginap di hotel yang sama.

“Kami upayakan jemaah tetap berada dalam satu rombongan dan lokasi hotel berdekatan, meskipun harus terpisah. Ini untuk menghindari kamar kosong yang bisa berdampak pada kerugian negara,” ujarnya.

Dari sisi fasilitas, sebagian jemaah bahkan berkesempatan menempati hotel dengan standar di atas bintang tiga, termasuk setara bintang empat hingga lima. Meski demikian, seluruh jemaah tetap memperoleh layanan dengan standar yang setara.

Setiap kamar diisi oleh tiga hingga lima orang, menyesuaikan jumlah tempat tidur yang tersedia. Kondisi kamar dan fasilitas pendukung, seperti tempat tidur dan kamar mandi, dipastikan memenuhi standar kenyamanan.

Selain akomodasi, layanan lain seperti konsumsi, transportasi, hingga agenda ziarah juga diberikan secara merata.

Zaenal menegaskan bahwa layanan akomodasi menjadi salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pemerintah berharap jemaah dapat merasa nyaman selama di Madinah sehingga dapat lebih fokus menjalankan ibadah.

Editor: Dardani