Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemenhaj Gandeng 23 Dapur untuk Hadirkan Masakah Nusantara untuk Jemaah Haji di Madinah
Oleh : Saibansah
Senin | 20-04-2026 | 20:28 WIB
2004_MASAKAN-NUSANTARA-2026.jpg Honda-Batam
Master Chef Catering Meez Marry Madinah, Abdurrahman, asal Jawa Barat yang meracik sajian nusantara untuk para jemaah haji Indonesia selama di Madinah. (Foto: Saibansah/J5NEWSROOM.COM)

BATAMTODAY.COM, Madinah - Jemaah haji Indonesia gelombang pertama yang segera berangkat ke Tanah Suci tidak perlu khawatir terkait konsumsi selama berada di Madinah. Selama kurang lebih sembilan hari masa tinggal, kebutuhan makanan dipastikan terpenuhi dengan standar cita rasa khas Indonesia.

Kepala Seksi Konsumsi Daerah Kerja (Daker) Madinah, Beny Darmawan, mengatakan pihaknya telah menggandeng 23 dapur katering untuk melayani jemaah. Seluruh dapur tersebut telah melalui proses seleksi oleh Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.

"Semua dapur sudah diseleksi dan dinyatakan memenuhi standar," ujar Beny, Minggu (19/4) waktu setempat.

Selama di Madinah, setiap jemaah akan menerima total 27 kali makan, dengan frekuensi tiga kali sehari. Pola ini disesuaikan dengan kebiasaan makan masyarakat Indonesia, yakni pagi, siang, dan malam. Selain memastikan kecukupan porsi, pemerintah juga menjaga kualitas menu, termasuk mempertahankan cita rasa khas Nusantara.

Menurut Beny, bahan bumbu yang digunakan dalam pengolahan makanan didatangkan langsung dari Indonesia dalam bentuk pasta siap pakai. Cara ini dinilai lebih efisien dalam proses distribusi sekaligus menjaga konsistensi rasa dibandingkan penggunaan bumbu mentah.

Selain itu, dapur katering diwajibkan memiliki tenaga juru masak dari Indonesia. Setiap dapur minimal harus memiliki dua koki utama dan empat asisten yang berasal dari Tanah Air. Ketentuan tersebut telah dipenuhi oleh seluruh mitra katering.

"Kehadiran koki Indonesia menjadi syarat utama agar cita rasa tetap sesuai dengan selera jemaah," kata Beny.

Ia menambahkan, kesiapan dapur untuk melayani jemaah telah mencapai 100 persen. Dengan demikian, layanan konsumsi dapat langsung diberikan saat jemaah gelombang pertama tiba di Madinah pada Rabu (22/4/2026).

Persiapan dilakukan sejak jauh hari, termasuk memastikan ketersediaan bahan baku di gudang serta kesiapan tenaga memasak. Seluruh dapur ditargetkan sudah siap beroperasi maksimal 10 hari sebelum kedatangan jemaah.

Khusus bagi jemaah lanjut usia (lansia), menu makanan juga dapat disesuaikan. Meski jenis menu tetap sama, tekstur makanan dapat diolah lebih lunak, seperti nasi yang dijadikan bubur agar lebih mudah dikonsumsi.

Pengawasan terhadap kualitas makanan dilakukan secara berlapis. Mulai dari pengecekan masa kedaluwarsa bahan, proses memasak, hingga penyajian. Selain itu, uji sampel makanan dilakukan di tiga lokasi, yakni kantor Daker Madinah, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan sektor pemondokan jemaah.

"Di hotel juga ada petugas yang melakukan pemeriksaan akhir sebelum makanan disajikan kepada jemaah," ujar Beny.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah memastikan jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa terkendala persoalan konsumsi.

Editor: Dardani