Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

LCT Kian Menguat, Transaksi Tembus USD 8,45 Miliar di Awal 2026
Oleh : Redaksi
Senin | 13-04-2026 | 10:28 WIB
Ferry-Irawan2.jpg Honda-Batam
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan. (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Struktur perdagangan Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Hal ini didukung dominasi mitra dagang Indonesia yang berasal dari negara dengan ekonomi non-dolar serta kinerja surplus perdagangan yang konsisten.

Data menunjukkan surplus perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencapai sekitar USD 1,27 miliar. Capaian tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas seperti batu bara, minyak sawit, serta produk besi dan baja.

Partisipasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam implementasi LCT saat ini berkisar antara 10 hingga 19 persen dari total transaksi. Angka tersebut mencerminkan peningkatan pemanfaatan sekaligus peluang ekspansi yang masih terbuka lebar.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, menegaskan bahwa penguatan kerangka LCT merupakan hasil sinergi antara pemerintah dan otoritas moneter. "Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi," ujar Ferry dalam agenda Bank of China Multilateral Business Dialogue di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Sejak diluncurkan pada 2018, implementasi LCT terus berkembang dan telah menjangkau berbagai sektor strategis, mulai dari manufaktur, energi, transportasi, perdagangan, hingga jasa. Hal ini mempertegas peran LCT sebagai instrumen penting dalam memperkuat nilai tukar rupiah dan mendorong aktivitas sektor riil.

Pada 2025, Indonesia telah mengimplementasikan LCT dengan enam negara mitra utama, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Kerja sama tersebut diperkuat melalui perluasan pengaturan bilateral guna memperdalam integrasi keuangan kawasan.

Ferry mengungkapkan, tren transaksi LCT menunjukkan peningkatan signifikan baik dari sisi nilai maupun jumlah pengguna. Pada periode Januari hingga Februari 2026, nilai transaksi LCT mencapai sekitar USD 8,45 miliar, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 3,21 miliar.

"Pertumbuhan ini juga diikuti peningkatan jumlah pengguna yang mencapai 14.621 pada Februari 2026, dengan rata-rata 16.030 pengguna per bulan, jauh di atas rata-rata bulanan tahun 2025 sebesar 9.720 pengguna," jelasnya.

Dalam implementasinya, LCT memungkinkan penyelesaian transaksi lintas negara secara langsung menggunakan mata uang lokal tanpa ketergantungan pada dolar AS. Skema ini didukung oleh tiga komponen utama, yakni fleksibilitas Foreign Exchange Administration (FEA), mekanisme pengawasan dan pemantauan, serta keberadaan Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).

Untuk mempercepat optimalisasi LCT, pemerintah telah membentuk Gugus Tugas Nasional yang melibatkan 10 kementerian dan lembaga. Tim ini bertugas memperkuat koordinasi, merumuskan kebijakan, serta mendorong adopsi transaksi mata uang lokal, khususnya dalam kegiatan ekspor dan impor.

Pemerintah juga berkomitmen memberikan berbagai insentif dan kemudahan proses bagi pelaku usaha guna meningkatkan efisiensi serta menekan biaya transaksi dalam perdagangan internasional. "Pengembangan LCT merupakan langkah konkret dan strategis menuju peningkatan efisiensi, pengurangan kerentanan eksternal, dan penguatan kerja sama keuangan multilateral. Melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku bisnis, kita dapat membangun ekosistem ekonomi yang lebih tangguh, terintegrasi, dan berkelanjutan," pungkas Ferry.

Sejumlah pejabat turut hadir dalam forum tersebut, di antaranya Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, Deputi Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan, serta jajaran pimpinan Bank of China dari kantor pusat, Hong Kong, dan Jakarta.

Editor: Gokli