Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemdiktisaintek Kucurkan Rp 1,7 Triliun untuk 18.215 Riset, Fokus pada Solusi Nyata dan Hilirisasi
Oleh : Redaksi
Sabtu | 11-04-2026 | 12:48 WIB
Brian-Yuliarto1.jpg Honda-Batam
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto. (Kemdiktisaintek)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengumumkan penerima pendanaan riset dan pengembangan tahun 2026 dengan total anggaran mencapai Rp 1,7 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung 18.215 kegiatan riset di perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Pendanaan disalurkan melalui sembilan program utama, antara lain program penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hilirisasi riset prioritas, riset konsorsium unggulan berdampak, inovasi seni nusantara, pusat unggulan IPTEK perguruan tinggi (PUI-PT), mahasiswa berdampak, pengujian model dan prototipe, serta PHC-Nusantara.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh penerima pendanaan atas dedikasi dalam menghasilkan riset dan inovasi. "Selamat kepada seluruh penerima. Ini merupakan hasil kerja keras dalam menyiapkan proposal, melaksanakan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sehingga menghasilkan karya riset dan inovasi yang berdampak," ujar Brian, Kamis (9/4/2026).

Ia menegaskan, seluruh program pendanaan diarahkan untuk menghasilkan solusi konkret terhadap berbagai persoalan strategis nasional, seperti penanganan stunting, ketahanan pangan, kemandirian energi dan air, pengendalian tuberkulosis, hingga percepatan pengelolaan sampah.

Menurut Brian, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha menjadi kunci agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, melainkan dapat diimplementasikan secara nyata di masyarakat dan industri. "Mari jadikan sains dan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi demi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa skema pendanaan tahun ini dirancang untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset. "Program ini diarahkan untuk menjawab permasalahan strategis nasional, memperkuat ekosistem riset, serta mendorong percepatan hilirisasi hasil riset ke masyarakat dan industri," ujarnya.

Secara nasional, penerima pendanaan berasal dari dosen di 38 provinsi, dengan komposisi 40 persen dari perguruan tinggi negeri dan PTN berbadan hukum, serta 60 persen dari perguruan tinggi swasta.

Adapun alokasi pendanaan difokuskan pada delapan bidang strategis. Sektor kesehatan memperoleh porsi terbesar sebesar 27 persen, disusul ketahanan pangan 25 persen, hilirisasi dan industrialisasi 16 persen, serta digitalisasi --termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor-- sebesar 15 persen. Sektor energi mendapat 7 persen, manufaktur dan material maju 4 persen, maritim 4 persen, serta pertahanan 2 persen.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat tata kelola pendanaan melalui kebijakan alokasi honorarium peneliti hingga 25 persen yang mulai diterapkan pada tahun anggaran 2026, guna memastikan pelaksanaan yang lebih akuntabel dan berkelanjutan.

Program penelitian menjadi penyumbang terbesar dengan 13.028 proposal didanai dari total 83.284 usulan, senilai Rp 1,04 triliun. Sementara program pengabdian kepada masyarakat mendanai 3.328 tim dengan total Rp 167 miliar, yang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat di wilayah 3T dan kelompok rentan.

Pada program hilirisasi riset prioritas, sebanyak 925 proposal didanai dengan anggaran Rp 318 miliar, guna mempercepat transfer teknologi dan kemitraan dengan industri. Selain itu, program mahasiswa berdampak melibatkan lebih dari 10 ribu mahasiswa untuk mendukung pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera.

Kemdiktisaintek berharap seluruh program ini mampu menghasilkan riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, pemerintah daerah, dan dunia industri. "Melalui pendekatan berbasis masalah, setiap riset diharapkan dapat menghadirkan solusi konkret yang berdampak luas," pungkas Fauzan.

Editor: Gokli