Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Perkuat Persatuan, Menag Ajak Masyarakat Jaga Nilai Ramadan Pasca-Idulfitri
Oleh : Redaksi
Selasa | 24-03-2026 | 11:28 WIB
nilai-ramadan.jpg Honda-Batam
Menteri Agama, Nasaruddin Umar. (Kemenag)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Agama menekankan pentingnya menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari setelah Idulfitri sebagai bagian dari pembentukan karakter dan penguatan kehidupan sosial.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyatakan bahwa keberhasilan Ramadan tidak hanya diukur dari intensitas ibadah selama bulan suci, tetapi juga dari konsistensi perilaku setelahnya.

Hal tersebut disampaikan dalam program Memaknai Lebaran Bersama Menag Nasaruddin Umar yang disiarkan oleh Berita Satu pada edisi khusus Idulfitri, Sabtu (21/3/2026). "Yang paling penting, nilai-nilai Ramadan itu harus dipatrikan dalam diri kita. Kejujuran, keadilan, kebersamaan, toleransi, dan sifat-sifat keutamaan lainnya jangan sampai hilang setelah Ramadan," ujar Nasaruddin.

Ia menjelaskan bahwa Ramadan merupakan proses pembentukan karakter yang mencakup penguatan nilai kejujuran, keadilan, kebersamaan, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut, kata dia, harus terus dijaga dan diinternalisasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, konsistensi dalam mempertahankan nilai-nilai tersebut akan berdampak pada kualitas kehidupan berbangsa. "Kalau kita mampu menjaga spirit Ramadan, kita akan menjadi pribadi yang menyejukkan, indah, dan mencerahkan dalam kehidupan sosial," katanya.

Selain itu, Menag juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan tidak terjebak pada kepentingan jangka pendek yang dapat merusak kohesi sosial. "Saya minta persatuan dan kesatuan. Jangan sampai kita terkecoh oleh kepentingan sesaat hingga saling menyikut antarwarga bangsa. Hal itu justru akan melemahkan sendi-sendi kebangsaan," tegasnya.

Menanggapi isu “fitrah kebangsaan”, Nasaruddin menilai bahwa sikap individualisme perlu dihindari karena berpotensi merusak solidaritas sosial. "Individualisme jangan sampai bersarang dalam hati dan pikiran setiap anak bangsa. Jika semua orang hanya mementingkan diri sendiri, itu akan menjadi racun bagi kehidupan bersama," ujarnya.

Ia menegaskan, momentum Idulfitri seharusnya dimanfaatkan sebagai titik awal untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan pribadi dan sosial, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan.

Editor: Gokli