Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

BI Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen, Fokus Jaga Rupiah dan Stabilitas di Tengah Gejolak Global
Oleh : Aldy
Rabu | 18-03-2026 | 15:28 WIB
BI-Rate1.jpg Honda-Batam
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Maret 2026 memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75%. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Maret 2026 memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75%. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 3,75% dan Lending Facility 5,50%.

Bank Indonesia menyatakan kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5+/-1% pada 2026-2027 di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

"Keputusan ini bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global, termasuk akibat perang di Timur Tengah, serta menjaga pencapaian sasaran inflasi," demikian keterangan resmi Bank Indonesia.

Bank sentral menegaskan akan terus mengoptimalkan instrumen kebijakan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal. Di sisi lain, kebijakan makroprudensial diarahkan untuk mendorong pertumbuhan kredit ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Selain itu, kebijakan sistem pembayaran diperkuat melalui perluasan digitalisasi transaksi, penguatan struktur industri, serta peningkatan keandalan infrastruktur pembayaran.

Intervensi Rupiah dan Kebijakan Valas Diperkuat

Dalam menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia meningkatkan intervensi di pasar valas, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic NDF (DNDF) di dalam negeri.

Mulai April 2026, BI juga akan memperketat ketentuan transaksi valas, antara lain dengan menurunkan batas pembelian valas tanpa dokumen dari 100 ribu dolar AS menjadi 50 ribu dolar AS per bulan. "Langkah ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga ketahanan eksternal," tulis Bank Indonesia.

Tekanan Global Meningkat akibat Perang Timur Tengah

Bank Indonesia menilai kondisi global memburuk sejak akhir Februari 2026 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok dinilai menekan pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus meningkatkan inflasi global.

Pertumbuhan ekonomi global 2026 diperkirakan melambat menjadi 3,1%, sedangkan inflasi meningkat menjadi 4,1%. Kondisi ini turut mendorong penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta arus modal keluar dari negara berkembang.

Dampak tersebut turut menekan nilai tukar rupiah yang pada 16 Maret 2026 tercatat sebesar Rp16.985 per dolar AS atau melemah 1,29% dibandingkan akhir Februari 2026.

Ekonomi Domestik Tetap Tumbuh

Di tengah tekanan global, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga, terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta peningkatan belanja pemerintah.

Investasi juga menunjukkan tren positif, didukung akselerasi proyek pemerintah dan program strategis nasional. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 4,9% hingga 5,7% pada 2026.

"Sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah akan terus diperkuat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional," ujar BI.

Inflasi Terkendali, Sistem Keuangan Tetap Kuat

Bank Indonesia melaporkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 sebesar 4,76% (year on year), dipengaruhi faktor sementara. Sementara inflasi inti tetap terjaga di level 2,63%.

Ke depan, inflasi diproyeksikan tetap berada dalam kisaran sasaran, meskipun terdapat tekanan dari kenaikan harga komoditas global.

Di sektor keuangan, ketahanan perbankan dinilai tetap kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat tinggi di level 25,87%, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah.

Digitalisasi dan Sistem Pembayaran Tumbuh Pesat

Bank Indonesia juga mencatat pertumbuhan signifikan pada transaksi digital. Volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,67 miliar transaksi pada Februari 2026 atau tumbuh 40,35% secara tahunan.

Transaksi berbasis QRIS bahkan melonjak hingga 133,20% (yoy), seiring meningkatnya jumlah pengguna dan merchant.

Ke depan, Bank Indonesia akan meluncurkan QRIS antarnegara dengan Korea Selatan serta Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) pada April 2026 guna mempercepat transformasi ekonomi digital nasional.

Sinergi Kebijakan Terus Diperkuat

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pembiayaan sektor prioritas.

Selain itu, kerja sama internasional juga diperluas, termasuk dalam penggunaan mata uang lokal dan konektivitas sistem pembayaran lintas negara. "Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global dengan memperkuat bauran kebijakan dan sinergi lintas otoritas," tegas Bank Indonesia.

Editor: Gokli