Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Highlight Dampak Konflik Iran terhadap ASEAN dan Negara Regional Lainnya
Oleh : Opini
Jumat | 13-03-2026 | 09:28 WIB
1303_arief-komisaris-pelindo.jpg Honda-Batam
Arief Poyuono. (Istimewa)

Oleh Arief Poyuono (Dirangkum dari berbagai sumber)

KONFLIK militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran luas di kawasan Asia-Pasifik. Ketegangan yang bermula dari serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu dan dibalas oleh Teheran kini berkembang menjadi konflik regional yang berpotensi menekan stabilitas ekonomi global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.

Bagi kawasan Asia-Pasifik, konflik ini menjadi ujian serius bagi ketahanan ekonomi. Banyak negara di kawasan tersebut sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah serta memiliki hubungan perdagangan yang kuat dengan kawasan tersebut. Ketika konflik meningkat, risiko gangguan rantai pasok energi dan perdagangan ikut membesar.

Dampak Ekonomi di Kawasan Asia Tenggara

Di Asia Tenggara, dampak konflik mulai terasa melalui potensi gangguan perdagangan serta kenaikan harga energi dan pupuk. Kenaikan harga energi dalam skala kecil saja dapat memicu inflasi di kawasan ini. Jika kenaikan berlangsung lebih besar, dampaknya dapat menekan pertumbuhan ekonomi serta memengaruhi daya beli masyarakat dan aktivitas bisnis.

Di Malaysia, misalnya, survei dari lembaga pengembangan perdagangan luar negeri menunjukkan sekitar 64 persen pelaku usaha memperkirakan terdampak konflik tersebut. Kekhawatiran utama meliputi keterlambatan pengiriman barang, peningkatan biaya pengiriman laut dan asuransi, serta kenaikan harga bahan baku yang berkaitan dengan minyak mentah seperti plastik. Lebih dari sepertiga perusahaan Malaysia juga memiliki pasar ekspor ke Timur Tengah, terutama ke Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Kamboja yang sangat bergantung pada impor bahan bakar juga mulai merasakan tekanan. Harga minyak eceran meningkat dalam sepekan terakhir dan pemerintah memperingatkan kemungkinan kenaikan lanjutan. Kondisi ini berpotensi menaikkan biaya produksi sektor garmen dan pertanian serta meningkatkan inflasi impor yang dapat membebani rumah tangga.

Tekanan di Asia Selatan dan Timur

Dampak konflik juga dirasakan di Asia Selatan. Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi negaranya, mulai dari pasokan energi, remitansi pekerja migran, sektor pariwisata, hingga transportasi maritim dan penerbangan.

Sementara itu di Asia Timur, Korea Selatan yang sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah mengalami gejolak pasar. Indeks saham utama negara tersebut, KOSPI dan KOSDAQ, sempat anjlok tajam sebelum akhirnya pulih setelah muncul tanda-tanda penurunan harga minyak.

Bank sentral Australia juga memperingatkan bahwa konflik tersebut berpotensi menimbulkan guncangan pasokan energi global yang dapat memicu inflasi serta memperlambat aktivitas ekonomi dunia. Di sisi lain, negara-negara Kepulauan Pasifik dinilai sangat rentan karena ketergantungan tinggi terhadap impor bahan bakar dan barang kebutuhan.

Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan menilai konflik ini berpotensi menguji kembali ketahanan ekonomi global. Jika berlangsung lama, konflik dapat memengaruhi harga energi dunia, sentimen pasar, pertumbuhan ekonomi, serta tingkat inflasi di berbagai negara.

Respons Pemerintah di Berbagai Negara

Sejumlah negara mulai menyiapkan langkah antisipasi untuk meminimalkan dampak konflik.

Pemerintah Kamboja menekankan pentingnya memperkuat ketahanan regional melalui diversifikasi sumber energi, peningkatan integrasi ekonomi ASEAN, serta mekanisme koordinasi krisis yang lebih kuat.

Vietnam membentuk gugus tugas khusus untuk memantau pasar energi dan memastikan ketersediaan bahan bakar bagi kebutuhan produksi maupun konsumsi masyarakat. Laos juga memastikan stok bahan bakar tetap stabil serta melarang penjualan bahan bakar dalam wadah lebih dari lima liter guna mencegah pembelian panik.

Filipina menyatakan memiliki cadangan minyak selama 50 hingga 60 hari untuk mengantisipasi gejolak harga jangka pendek. Pemerintah juga berupaya mengatur penyesuaian harga bahan bakar secara bertahap agar tidak membebani masyarakat.

Di Korea Selatan, pemerintah meningkatkan status kewaspadaan terhadap pasokan minyak dan gas untuk memperkuat pemantauan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan gangguan jalur distribusi energi dari Timur Tengah.

Sementara itu, Australia dan Selandia Baru lebih fokus pada perlindungan warganya di kawasan Timur Tengah dengan menyiapkan evakuasi serta pengerahan tim konsuler dan aset militer untuk membantu pemulangan warga negara mereka.

Seruan Perdamaian dari Kawasan Asia-Pasifik

Di tengah meningkatnya ketegangan, banyak negara dan organisasi regional menyerukan penghentian konflik melalui jalur diplomasi.

Para Menteri Luar Negeri ASEAN pada 4 Maret mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak penghentian permusuhan dan meminta semua pihak menghormati hukum internasional serta Piagam PBB.

Sri Lanka juga melakukan diplomasi langsung dengan Israel dan Iran untuk memastikan keselamatan warganya sekaligus mendorong penyelesaian konflik secara damai.

Tiongkok turut mengambil peran aktif dalam diplomasi dengan melakukan komunikasi dengan berbagai negara, termasuk Rusia, Iran, Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Beijing juga berencana mengirim utusan khusus ke Timur Tengah untuk mendorong de-eskalasi konflik.

Pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa pihak-pihak yang terlibat perlu segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi lebih lanjut, dan kembali ke jalur dialog demi mencegah dampak yang lebih luas terhadap stabilitas ekonomi global.

Secara keseluruhan, konflik di Iran tidak hanya menjadi isu keamanan regional Timur Tengah, tetapi juga membawa konsekuensi ekonomi dan geopolitik yang luas bagi negara-negara di Asia-Pasifik, termasuk kawasan ASEAN yang sangat sensitif terhadap perubahan harga energi dan gangguan rantai pasok global.

Penulis adalah Komisaris Pelindo