Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Doa di Balik Jeruji PN Batam, Puasa Pertama Seorang Anak Menanti Sidang
Oleh : Paskalis Rianghepat
Kamis | 19-02-2026 | 13:28 WIB
tahan-salat.jpg Honda-Batam
Seorang tahanan anak saat menjalan salat di balik sel tahanan PN Batam, Kamis (19/2/2026). (Foto: Paskalis RH)

BATAMTODAY.COM, Batam - Lorong sel tahanan di Pengadilan Negeri Batam siang itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak terdengar suara gaduh ataupun gesekan borgol. Hanya napas pelan yang sesekali memecah keheningan dari balik jeruji besi.

Kamis, 19 Februari 2026, bertepatan dengan hari pertama Ramadan 1447 Hijriah. Di saat umat Islam memulai puasa dengan harapan dan doa, seorang anak justru mengawali hari sucinya dari ruang tahanan pengadilan.

Tubuhnya kecil, balutan pakaian tahanan yang kebesaran membuatnya tampak semakin ringkih. Ia berdiri menghadap kiblat, mengangkat tangan perlahan. Takbirnya lirih, nyaris tak terdengar. Di atas lantai dingin tanpa sajadah, ia memulai salat dengan khusyuk.

Sujudnya berlangsung lama. Dalam diam yang pekat, doa seakan menjadi satu-satunya sandaran.

Seorang pengawal tahanan yang berjaga pagi itu memilih memberi ruang. Ia menyaksikan dari kejauhan tanpa mengusik.

"Dia sedang salat, Mas. Dari tadi memang kelihatan khusyuk," ujarnya pelan.

Ketika ditanya mengenai perkara yang menjerat anak tersebut, pengawal itu menggeleng. Ia menegaskan bahwa tugasnya hanya melakukan pengawalan.

"Kalau kasusnya apa, saya tidak tahu. Tugas kami hanya mengawal," katanya singkat.

Usai salam, anak itu tetap duduk terdiam. Kepalanya tertunduk cukup lama. Entah apa yang berkecamuk di benaknya --sidang perdana yang segera dimulai, masa depan yang belum jelas, atau kerinduan pada rumah yang terasa semakin jauh.

Di usia ketika sebagian anak seusianya masih berkutat dengan buku pelajaran dan rencana liburan sekolah, ia harus bersiap menghadapi dakwaan hukum. Di gedung pengadilan, keadilan lazimnya dibaca melalui pasal, tuntutan, dan putusan hakim. Namun, siang itu, ada sisi lain yang mengemuka --sebuah doa yang terucap sunyi di balik jeruji.

Hari pertama puasa bagi anak tersebut bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia juga menahan cemas, takut, dan mungkin penyesalan. Dalam keterbatasan ruang dan kebebasan, ia tetap menengadahkan tangan, berharap kesempatan untuk memperbaiki diri tetap terbuka.

Sebab sebelum palu hakim diketukkan, selalu ada kisah manusia yang lebih dahulu mengetuk langit.

Editor: Gokli