Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dewan Pers Optimis Disrupsi Media di Indonesia Segera Berakhir
Oleh : Redaksi
Minggu | 08-02-2026 | 16:34 WIB
KOMAR_copy_470x250.jpg Honda-Batam
Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat optimistis disrupsi media massa yang terjadi saat ini segera berakhir dan publik akan kembali menjadikan media sebagai acuan informasi tepercaya

Hal itu disampaikan Komaruddin dalam acara Konvensi Nasional Media Massa di Kota Serang, Banten, Minggu (8/2). Turut hadir dalam acara ini Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Wamen Komdigi Nezar Patria.

Dalam paparannya Komaruddin menyebut disrupsi media massa terjadi di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia.

Pada asa disrupsi, kata dia, ruang-ruang di dunia maya dipenuhi konten berisi hoaks, noise dan sejenisnya.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini meyakini disrupsi media di Indonesia tidak berlangsung lama. Namun, untuk mengakhiri disrupsi, Komaruddin menyebut insan pers harus kreatif.

"Disrupsi itu biasanya tidak akan lama, jika kita kreatif," katanya.

Komaruddin mengibaratkan disrupsi media hari ini seperti banjir bandang yang membawa lumpur atau kotoran. Namun setelah banjir bandang selesai, pelan-pelan tanah menjadi kembali subur dan masyarakat mencari sumber air bersih.

"Pers ini semacam lembaga penyulingan, menawarkan air bersih untuk masyarakat. Suatu saat masyarakat akan mengalami kejenuhan dengan berita toksik tersebut," terangnya.

Konvensi nasional media massa diharapkan melahirkan strategi jitu dan terbaru untuk menghadapi disrupsi media massa dan AI.

Komarudin juga senang, banyak perusahaan dan praktisi media massa yang tetap optimis bisa melewati disrupsi media.

"Sehingga forum ini bisa menjadikan kita berpikir positif ke depan. Sebagai ketua dewan pers, saya optimis dan gembira sekali, kepada pemerintah, Komdigi, menghadapi situasi ini," kata Komaruddin.

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mengajak insan pers untuk lebih banyak menyampaikan suara rakyat dan lebih peka terhadap nasib rakyat meskipun pers juga sedang menghadapi masalah.

"Sekarang ini kan problem pers kan untuk survive ekonomi, karena nyata dimana-mana terjadi PHK, itu agenda yang dirasakan oleh pers. Tapi, cobalah, sempatkan lah, kepedulian pada nasib-nasib rakyat yang terpinggirkan itu harus sering, lebih banyak disuarakan," katanya.

"Jadi ini alarm ya," kata Komaruddin.

Hal itu disampaikan setelah kasus bunuh diri seorang siswa sekolah dasar yang tidak mampu membeli alat tulis menjadi sorotan publik.

Komaruddin mengemukakan pentingnya upaya bersama untuk terus menyuarakan masalah-masalah akibat kemiskinan struktural supaya bisa segera ditangani.

"Kan ada ungkapan no viral, no justice. Kalau nanti ramai-ramai itu baru diperhatikan. Tapi kalau hanya satu itu nanti lupa lagi," katanya.

Komaruddin menyampaikan bahwa struktur masyarakat Indonesia masih berbentuk piramida dan masyarakat miskin berada di lapisan paling bawahnya.

Menurut dia, pemerintah dan pihak-pihak terkait harus terus diingatkan untuk mengatasi persoalan kemiskinan struktural dan mengupayakan pemerataan manfaat pembangunan.

Ia menekankan bahwa pertumbuhan dan pemerataan ekonomi harus berjalan seiring.

"Kalau mengejar pertumbuhan, tapi siapa yang tumbuh? Sekarang ini yang tumbuh banyak orang kaya-kaya, tapi yang miskin kan tidak berubah," katanya.

Editor: Surya