Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Limbah Hitam Cemari Pantai Dangas Batam, Warga dan Nelayan Gotong Royong Lakukan Pembersihan
Oleh : Aldy Daeng
Senin | 02-02-2026 | 11:08 WIB
limbah-hitam.jpg Honda-Batam
Joni, nelayan Pantai Dangas, turut membersihkan limbah di bibir pantai. (Foto: Aldy Daeng)

BATAMTODAY.COM, Batam - Warga dan nelayan di kawasan Pantai Dangas, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, bergotong royong membersihkan tumpahan limbah cair berwarna hitam yang diduga mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Pencemaran tersebut diduga berasal dari Kapal LCT Mutiara Galrib Samudera yang kandas di perairan dekat objek wisata Tangga Seribu.

Kapal tersebut dilaporkan mengalami kandas pada Kamis, 29 Januari 2026. Akibat insiden itu, sebagian muatan limbah tumpah ke laut dan mencemari kawasan pesisir. Pantauan di lokasi pada Minggu, 1 Februari 2026, menunjukkan garis pantai menghitam. Limbah terlihat terbungkus karung goni, sebagian mengapung di laut, sementara tangki serta kabel bekas limbah ditemukan terdampar di perairan dangkal.

Salah seorang nelayan setempat, Joni, mengatakan kegiatan pembersihan telah dilakukan selama tiga hari terakhir oleh warga dan nelayan sekitar. "Jumlah limbah yang dibersihkan cukup banyak. Dari satu kapal yang kandas, ditambah dorongan angin utara, limbah terbawa ke arah pantai. Dugaan kami ini oli bekas dari kapal tanker," ujar Joni, Minggu (1/2/2026).

Ia menyebutkan, sebagian limbah telah diangkat dan dikembalikan ke kapal yang kandas. Namun, warga dan nelayan masih terus menyisir perairan untuk memastikan tidak ada sisa limbah yang tertinggal.

Menurut Joni, volume limbah yang tumpah diperkirakan mencapai lebih dari 10 ton, meski hingga kini belum ada data resmi dari instansi berwenang. "Pembersihan baru menjangkau radius sekitar satu meter dari bibir pantai," katanya.

Ia menuturkan, pencemaran tersebut berdampak langsung terhadap biota laut dan ekosistem mangrove. Aktivitas melaut nelayan pun terhenti karena hasil tangkapan ikan, udang, dan kepiting menurun drastis. Dampak serupa juga dirasakan di kawasan wisata Tangga Seribu.

Terkait tanggung jawab, Joni menyebut pihak pemilik kapal sejauh ini membantu operasional pengangkutan limbah, meski pembersihan di lapangan masih didominasi oleh warga dan nelayan. "Pembersihan di pantai tetap dilakukan warga. Di kapal mungkin ada tim sendiri, tetapi kami tidak mengetahui dari instansi mana," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pencemaran di wilayah tersebut bukan kali pertama terjadi. "Hampir setiap tahun ada kiriman limbah seperti ini, namun kami tidak tahu siapa pelakunya," ucapnya.

Meski demikian, Joni menilai insiden kali ini merupakan kecelakaan pelayaran. Saat kapal kandas, kata dia, kapal langsung diarahkan mendekati pesisir untuk mencegah tumpahan meluas. Pembersihan diperkirakan masih akan berlangsung hingga sepekan ke depan.

"Harapan kami, perusahaan bisa memahami kondisi nelayan yang saat ini tidak dapat melaut," ujarnya.

Nelayan lainnya, Anis, mengatakan pencemaran minyak tersebut menyebabkan nelayan kehilangan sumber penghasilan karena tidak bisa melaut. Limbah juga disebut telah menyebar hingga ke laut lepas dan aliran sungai di sekitar pantai.

"Pembersihan dilakukan bersama warga, kelompok KUB, dan KNTI," kata Anis.

Ia mengaku belum dapat memastikan jumlah limbah yang telah dikembalikan ke tongkang perusahaan. "Karung yang kami angkut sangat banyak. Bahkan rakit pengangkut limbah sempat hancur karena kelebihan muatan," ujarnya.

Menurut Anis, limbah yang terkumpul dinaikkan kembali ke tongkang milik perusahaan kapal. Nelayan juga telah bertemu dengan perwakilan perusahaan yang menyatakan kesediaan untuk bertanggung jawab atas pencemaran tersebut.

Ia memperkirakan pemulihan kondisi laut membutuhkan waktu minimal satu bulan. "Itu pun hasil tangkapan belum tentu kembali normal karena air laut masih berbau minyak," katanya.

Anis menambahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pemerintah telah turun ke lokasi pencemaran, meski belum seluruh nelayan mengetahui hal tersebut. Ia memperkirakan pencemaran membentang sepanjang 3 hingga 4 kilometer garis pantai.

Sektor Wisata Terdampak

Pencemaran limbah juga berdampak pada sektor pariwisata. Salah seorang pengunjung Tangga Seribu, Roni, mengaku membatalkan rencana berenang dan memancing bersama keluarganya. "Seharusnya ada pemberitahuan sejak di pintu masuk. Kami khawatir limbah ini berbahaya," ujarnya.

Sementara itu, pekerja objek wisata Tangga Seribu, Riska, menyebut jumlah pengunjung menurun drastis sejak terjadinya pencemaran. "Biasanya akhir pekan bisa mencapai 100 hingga 150 pengunjung. Sekarang hingga siang hari baru sekitar 30 orang," katanya.

Ia berharap pemerintah segera menangani pencemaran agar aktivitas wisata kembali normal.

Sebelumnya diberitakan, kandasnya Kapal LCT Mutiara Galrib Samudera yang mengangkut sekitar 200 jumbo bag limbah hitam berpotensi berujung pada proses hukum. Nakhoda kapal dan perusahaan operator terancam pidana penjara 1 hingga 5 tahun apabila terbukti melanggar ketentuan pelayaran dan menyebabkan pencemaran laut.

Insiden tersebut terjadi tidak jauh dari kawasan wisata Tangga Seribu Patam Lestari dan mengakibatkan sebagian muatan limbah tumpah ke laut serta mencemari perairan Pantai Dangas.

Editor: Gokli