Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Diplomasi Budaya dan Pesan Toleransi, Film Indonesia Solata Tembus Festival Internasional di Bulgaria
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 30-01-2026 | 15:08 WIB
solata-bulgaria.jpg Honda-Batam
Film Indonesia Solata untuk pertama kalinya tampil di ajang festival film internasional, dalam rangkaian Menar Film Festival di Cinema House, Sofia, Selasa (27/1/2026). (Kemlu)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Film Indonesia Solata untuk pertama kalinya tampil di ajang festival film internasional. Karya tersebut diputar dalam rangkaian Menar Film Festival di Cinema House, Sofia, Selasa (27/1/2026) pukul 19.00 waktu setempat. Pemutaran ini menjadi langkah awal Solata menembus panggung perfilman global sekaligus bagian dari upaya diplomasi budaya Indonesia di Bulgaria.

Kegiatan tersebut terselenggara atas dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sofia yang secara aktif mendorong pemanfaatan film sebagai sarana soft power diplomacy. Solata dipilih karena dinilai mampu merepresentasikan wajah Indonesia yang majemuk dari sisi budaya, agama, suku, ras, hingga tatanan sosial.

Menar Film Festival dikenal sebagai festival film non-kompetisi yang berfokus pada karya-karya dari kawasan Timur Tengah dan Afrika. Namun, panitia secara khusus mengundang Indonesia untuk menampilkan filmnya, sebagai bentuk apresiasi terhadap kekuatan narasi dan nilai budaya yang diangkat dalam Solata.

Pemutaran Solata dihadiri kalangan diplomatik lintas negara. Sejumlah duta besar hadir langsung, di antaranya Duta Besar Belanda, India, Korea Selatan, Maroko, Mongolia, Pakistan, dan Vietnam. Selain itu, turut hadir para diplomat dan perwakilan kedutaan dari Portugal, Malta, Kuwait, Irak, Serbia, Amerika Serikat, Moldova, China, Polandia, Jerman, Albania, Finlandia, hingga Kroasia.

Tidak hanya kalangan diplomatik, acara ini juga dihadiri media lokal Bulgaria, akademisi, Indonesianist, tokoh agama, perwakilan lembaga swadaya masyarakat, National Gallery of Bulgaria, travel writer, serta masyarakat umum.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Listiana Operananta, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Solata dipilih karena menyuguhkan cerita sederhana namun sarat nilai kemanusiaan. Film ini mengisahkan persahabatan anak-anak yang tumbuh dalam perbedaan budaya, agama, dan latar sosial, namun tetap saling mendukung.

"Film ini berbicara tentang persahabatan, solidaritas, dan harapan. Nilai-nilai tersebut mencerminkan realitas Indonesia sebagai bangsa yang majemuk sekaligus menjadi pesan universal yang dapat diterima semua kalangan," ujar Listiana.

Ia juga menyoroti latar pengambilan gambar film yang berada di Lembah Ollon, Toraja, Sulawesi Selatan. Menurutnya, hal tersebut sekaligus memperkenalkan kekayaan alam Indonesia di luar destinasi wisata yang selama ini lebih dikenal.

"Melalui Solata, kami ingin menunjukkan bahwa keindahan Indonesia tidak hanya terbatas pada Bali. Toraja menjadi contoh betapa beragam dan kayanya lanskap alam serta budaya Indonesia," tambahnya.

Keunikan lain dari Solata terletak pada para pemerannya yang mayoritas merupakan warga asli Toraja dan bukan aktor profesional. Pendekatan tersebut menghadirkan nuansa autentik yang memperkuat kedalaman emosi cerita.

Antusiasme penonton terlihat selama pemutaran berlangsung. Ruang Cinema House terisi lebih dari 90 persen kapasitas. Tepuk tangan panjang mengiringi penayangan kredit akhir film sebagai bentuk apresiasi spontan dari para hadirin.

Sejumlah diplomat mengaku terkesan dan tersentuh oleh alur cerita Solata. Bahkan, beberapa di antaranya menyampaikan apresiasi secara langsung kepada KBRI Sofia usai pemutaran film.

Para penonton menilai kekuatan film ini tidak hanya terletak pada cerita, tetapi juga pada penggunaan musik tradisional yang mengiringi setiap adegan dan memperkuat nuansa budaya.

Sebelum pemutaran film, KBRI Sofia menampilkan tarian empat etnis Sulawesi Selatan --Toraja, Bugis, Mandar, dan Makassar-- yang dibawakan oleh Pesona Mawar Nusantara, sanggar tari binaan KBRI Sofia. Para tamu undangan juga disuguhi hidangan khas Sulawesi Selatan sebagai bagian dari pendekatan diplomasi budaya yang menyeluruh.

Ke depan, KBRI Sofia berencana mendaftarkan Solata ke sejumlah festival film berskala kompetisi sepanjang 2026, termasuk Sofia Film Festival dan Kinomania. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas eksposur film Indonesia di Eropa sekaligus memperkuat kehadiran Indonesia di kancah perfilman internasional.

Pemutaran Solata di Menar Film Festival menjadi bukti bahwa film dapat menjadi medium diplomasi yang efektif, menyampaikan nilai, identitas, dan cerita Indonesia melalui bahasa universal sinema. Dengan sambutan hangat di Sofia, Solata menandai awal perjalanan yang menjanjikan di panggung internasional.

Editor: Gokli