Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kemenhut Bakal Rehabilitasi Hutan Pascabencana Sumatera Capai 49.000 Hektare
Oleh : Redaksi
Jumat | 09-01-2026 | 08:48 WIB
005460100-1764480697-830-556_copy_470x250.jpg Honda-Batam
Kerusakan hutan akibat banjir dan longsor di Sumatera. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan potensi area rehabilitasi hutan dan lahan pascabencana di wilayah Sumatera mencapai 49.197 hektare (ha). Luasan terbesar berada di Provinsi Sumatera Utara, yang terdampak signifikan akibat bencana banjir dan longsor.

Direktur Rehabilitasi Hutan Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kemenhut, M Saparis Soedarjanto mengatakan, pendataan tersebut dilakukan sebagai bagian dari langkah penanganan bencana secara berkelanjutan.

"Potensi area untuk rehabilitasi dalam rangka penanganan bencana Aceh 9.876 ha, Sumut 36.271 ha dan Sumber 3.050 ha," ujar Saparis, dikutip Jumat (9/1/2026).

Saparis menjelaskan, Kemenhut sebelumnya telah mengidentifikasi sejumlah kawasan rehabilitasi hutan yang terdampak bencana banjir dan longsor di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Identifikasi ini menjadi dasar awal dalam penyusunan rencana rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai (DAS) pascabencana.

Di Sumatera Barat, berdasarkan laporan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Agam Kuantan, areal rehabilitasi yang telah ditanami seluas 1 hektare terdampak bencana banjir dan longsor.

Sementara itu, BPDAS Asahan Barumun di Sumatera Utara melaporkan areal seluas 10 hektare di Desa Singgalang yang merupakan bagian dari kegiatan penanaman tahun 2024 turut terdampak bencana.

Di wilayah Aceh, dampak bencana juga cukup signifikan. BPDAS Krueng Aceh mencatat areal rehabilitasi seluas 280 hektare yang dilakukan penanaman pada 2025, serta 40 hektare yang ditanami pada 2024 di lokasi berbeda ikut terdampak banjir dan longsor.

Saparis menegaskan, data potensi area rehabilitasi tersebut merupakan hasil identifikasi cepat yang dilakukan pada periode 28 November hingga 10 Desember 2025.

Oleh karena itu, angka tersebut masih bersifat dinamis dan berpotensi berubah seiring adanya pembaruan data di lapangan.

"Data ini merupakan hasil identifikasi cepat dan bisa berubah dengan penambahan data terbaru," jelasnya.

Rehabilitasi hutan dan lahan menjadi salah satu langkah penting dalam upaya mitigasi bencana, terutama untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan hulu dan DAS yang rusak akibat banjir dan longsor. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan dampak bencana di wilayah Sumatera cukup besar. Berdasarkan data per Jumat (9/1/2026), sebanyak 1.180 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut. Selain itu, 145 orang masih berstatus hilang dan sekitar 238.000 orang terpaksa mengungsi.

Editor: Surya