Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Bayu Fiendra, Bocah Peraih Medali Perunggu PON Riau Menuntut Haknya
Oleh : ali/dd
Jum'at | 07-12-2012 | 17:57 WIB
bayu-fiendra-1.jpg Honda-Batam
Bayu Fiendra menunjukkan medali kebanggannya.

BATAM, batamtoday - Nasib atlet di negeri tercinta ini kembali menuai masalah, kali ini menimpa atlet olahraga layar asal Batam, Bayu Fiendra, 13 tahun. Bayu Fiendra merupakan atlet binaan Nongsa Point Marina (Citramas Group) ini, yang pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau turun membawakan nama DKI Jakarta.


Namun, anak seorang tukang servis jam di kawasan Pasar Tanjungpantun Jodoh ini, hingga kini belum mendapatkan haknya atas bonus peringkat III yang diraihnya dengan perolehan medali perunggu dalam lomba layar kelas Optimis.

Bayu Fiendra juga mengaku tidak mengetahui jika dirinya telah dikontrak Provinsi DKI Jakarta untuk mengikuti ajang PON XVIII Riau yang diselenggarakan di Pekanbaru. Saat itu dirinya hanya mengikuti sang pelatih dari Nongsa Point Marina, Wengsamsi, ke Jakarta.

"Tidak tau kalau sudah dikontrak DKI, saya hanya ikut aja diajak aja sama pak Wengsamsi. Orangtua saya juga awalnya tidak tau," ungkap Bayu Fiendra yang ditemani pamannya, Oman (35), Jumat (7/12/2012).

Setelah berada di Jakarta dan bergabung dengan para atlet DKI lainnya, baru orangtuanya diberitahu bahwa dirinya akan mengikuti ajang olahraga layar di PON XVIII Riau mewakili DKI Jakarta.

"Tidak ada kontrak sama sekali yang saya tandatangani, sama orangtua saya juga gak ada. Taunya ke jakarta hanya dibawa jalan-jalan aja sama pak Wengsamsi," tutur Bayu.

Bahkan, pada saat mengikuti PON XVIII Riau, dari Batam menuju Bengkalis hingga usai PON dengan prestasi yang diraih juara III lomba layar kelas Optimis, Bayu naik kapal sendirian. Dan pulangnya ke Batam juga sendirian menggunakan pesawat.

"Ketika mau ke Bengkalis, saya sendirian naik kapal. Sampai di sana juga tidak ada dijemput, saya naik ojek ke hotel. Begitu juga ketika saya kembali ke Batam dari Jakarta," ungkap Bayu yang mengaku sudah mengikuti pelatihan olahraga layar sejak tahun tahun 2009 di bawah asuhan Nongsa Point Marina.

Anehnya, anak dari pasangan Firman SY dan Sukaini ini mengaku, pada saat pra PON nama aslinya Bayu Fiendra diubah menjadi Prastio Bayu Nugroho. Namun ketika memasuki PON, nama yang ditampilkan nama Bayu yang ditampilkan, sebagaimana tercantum pada piagam yang diraihnya juara III lomba layar kelas Optimis mewakil DKI Jakarta.

Tragisnya, pada saat Bayu dan kedua orangtuanya meminta haknya atas prestasi yang diraih pada PON XVIII Riau itu, Wengsamsi malah berdalih bukan merupakan urusannnya, melaikan dari DKI Jakarta.

"Kalau kami meminta hak saya atas prestasi saya di PON itu, pak Wengsamsi mengatakan bukan urusannya. Tapi urusan DKI Jakarta," ujar Bayu.

"Tolonglah yang menjadi haknya Bayu diserahkan, karena anak seusia bayu yang bertarung di laut dan mendapat berprestasi, tolong dikasih," begitu Oman, paman Bayu, berujar.

Bukan tanpa alasan orangtua Bayu meminta hak anaknya atas prestasi yang diraihnya, mengingat Bayu berhasil menorehkan prestasi gemilang memperoleh medali perunggu yang dipersembahkannya ke Provinsi DKI Jakarta. Apalagi, saat proses keberangkatan Bayu ke ajang PON XVIII Riau itu, kedua orangtuanya terblit utang sekitar Rp 2 juta.

"Untuk biaya kedua orangtua Bayu berangkat ke Bengkalis mendampingi Bayu dalam PON, uang itu dipinjam dari tetangga," ujar Oman mengisahkan.

Hingga berita ini dipuliskan, Wengsamsi, pelatih olahraga layar di bawah binaan Nongsa Point Marina (Citramas Group) yang diduga telah menjual atlit Kepri ke DKI Jakarta dalam perhelatan PON XVIII Riau, belum bersedia dikonfirmasi batamtoday.com, baik percakapan lewat telepon selulernya maupun melalui pesan singkat.