Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kominfo Dorong Kolaborasi Nasional Tangkal Hoaks di Ruang Digital
Oleh : Redaksi
Jumat | 28-11-2025 | 12:48 WIB
tangkal-hoaks.jpg Honda-Batam
Wamenkomdigi Nezar Patria, dalam Sharing Session di Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat, Rabu (26/11/2025). (Komdigi)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menekan laju hoaks yang semakin mengganggu ekosistem ruang digital Indonesia.

Wamenkomdigi Nezar Patria menegaskan bahwa penanganan hoaks tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan. "Kita melihat misinformasi dan disinformasi tumbuh subur di media sosial dan membawa ancaman mulai dari kohesi sosial sampai kehidupan berbangsa," ujar Nezar dalam SindoNews Sharing Session di Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat, Rabu (26/11/2025).

Nezar menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sekitar 143 juta pengguna media sosial dan 230 juta pengguna internet. Besarnya jumlah tersebut menjadikan ruang digital sebagai arena penting bagi interaksi sosial, ekonomi, dan politik. Namun perkembangan ini diikuti oleh meningkatnya konten hoaks.

"Sepanjang 2024 terdapat 1.923 konten hoaks yang ter-capture oleh Komdigi. Itu hanya puncak gunung es, jumlah sebenarnya tentu lebih banyak," katanya.

Ia juga menyoroti hasil survei yang menunjukkan 11,9 persen responden pernah menyebarkan hoaks. Menurutnya, persoalan hoaks bukan semata-mata pada suplai informasi palsu, tetapi juga pada kerentanan masyarakat.

"Seseorang mungkin tahu berita itu palsu tetapi tetap membagikannya karena motivasi partisan atau dorongan emosional," tegasnya.

Hoaks kesehatan disebut sebagai kategori yang paling banyak beredar, terlebih dengan semakin maraknya manipulasi konten berbasis kecerdasan artifisial. "Video generative AI kini semakin mulus. Bahkan para ahli pun bisa terkecoh. Ini memperburuk penyebaran hoaks di sektor kesehatan dan sektor lainnya," jelas Nezar.

Wamenkomdigi menekankan pentingnya literasi digital sebagai benteng pencegahan sekaligus menyebut peran pemeriksa fakta sebagai elemen vital mitigasi. "Literasi digital berkorelasi dengan kemampuan seseorang membedakan informasi benar dan palsu," katanya.

Untuk itu, Nezar mendorong penerapan kolaborasi model pentahelix. Ia menegaskan bahwa pemberantasan hoaks adalah tanggung jawab bersama. "Pemerintah, akademisi, komunitas masyarakat, pelaku usaha, dan media harus berada dalam satu baris," ujarnya.

Nezar mengajak masyarakat membudayakan prinsip stop, think, verify, and share dalam menggunakan media digital. "Sebelum membagikan informasi, berhentilah sejenak. Baca dengan saksama, lakukan verifikasi jika ragu, dan baru bagikan jika yakin benar. Dengan begitu kita dapat menciptakan ruang digital yang lebih aman dan sehat bagi semua," tutupnya.

Editor: Gokli