Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menuju Indonesia Emas 2045, Pemerintah Perkuat Reformasi Birokrasi Hadapi Megatren Global
Oleh : Redaksi
Rabu | 19-11-2025 | 12:08 WIB
1911_indonesia-emas-2045.jpg Honda-Batam
Menteri PANRB, Rini Widyantini, saat Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pengampu Sasaran dan Agenda Reformasi Birokrasi Nasional 2025-2029 di Jakarta, Selasa (18/11/2025). (KemenPANRB)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah menegaskan bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 akan berhadapan dengan berbagai megatren global seperti perubahan iklim, persaingan sumber daya alam, urbanisasi, pemanfaatan luar angkasa, hingga disrupsi teknologi. Dalam situasi tersebut, birokrasi Indonesia dituntut semakin adaptif, lincah, dan mampu merespons dinamika dunia.

"Birokrasi Indonesia harus lincah, berpikir ke depan, dan siap meninjau ulang kebijakan. ASN ke depan juga harus mampu berpikir lintas batas, mengambil keputusan berbasis bukti, serta bekerja dengan dukungan big data yang terintegrasi," ujar Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini, saat Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pengampu Sasaran dan Agenda Reformasi Birokrasi Nasional 2025-2029 di Jakarta, Selasa (18/11/2025).

Indonesia saat ini memasuki fase baru Reformasi Birokrasi Nasional 2025-2045, sebuah periode yang akan menentukan keberhasilan bangsa mewujudkan negara maju, inovatif, dan berdaya saing global. Desain Besar Reformasi Birokrasi 2025-2045 disiapkan sebagai instrumen strategis untuk memastikan kebijakan pemerintah dapat dieksekusi secara cepat, responsif, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat.

Selama dua puluh tahun terakhir, reformasi birokrasi telah membangun fondasi penting, mulai dari penyederhanaan struktur organisasi, transformasi jabatan fungsional, penguatan akuntabilitas melalui Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), hingga konsolidasi pelayanan publik. Selain itu, implementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) juga telah menjangkau 91 persen kementerian dan lembaga.

Rini menegaskan bahwa capaian tersebut menunjukkan reformasi birokrasi telah memberikan manfaat konkret. Namun, memasuki fase baru, birokrasi harus bergerak melampaui pola kerja biasa menuju tata kelola pemerintahan transformatif yang mengutamakan integrasi lintas sektor, partisipasi luas, serta penciptaan nilai tambah bagi masyarakat.

Ia mengajak semua pemangku kepentingan untuk memperkuat komitmen dan kolaborasi. "Birokrasi yang berdampak hanya bisa dicapai apabila kita bekerja secara kolaboratif untuk meraih tujuan nasional. Apa yang kita lakukan bukan semata-mata untuk diri sendiri, melainkan untuk masyarakat dan bangsa Indonesia," tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan Kementerian PANRB, Erwan Agus Purwanto, menyampaikan bahwa penyusunan lima dokumen kesepakatan bersama telah rampung. Dokumen tersebut merepresentasikan lima arah besar reformasi birokrasi nasional untuk periode 2025-2029.

Menurut Erwan, dokumen tersebut menjadi bukti bahwa reformasi birokrasi tidak hanya bertumpu pada kebijakan, tetapi juga tata kelola kolaboratif yang melibatkan kementerian/lembaga, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah daerah sebagai mitra strategis.

"Penandatanganan ini menegaskan bahwa Reformasi Birokrasi Nasional bukan lagi agenda sektoral, tetapi agenda nasional bersama. Ini menjadi dasar kuat untuk mewujudkan birokrasi Indonesia yang lincah, berintegritas, dan melayani menuju Indonesia Emas 2045," ujarnya.

Editor: Gokli