Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Industri Manufaktur Tetap Tangguh, IKI Oktober 2025 Naik ke 53,50 dan Terus di Zona Ekspansi
Oleh : Redaksi
Rabu | 05-11-2025 | 13:48 WIB
febri5.jpg Honda-Batam
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif. (Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Industri manufaktur nasional terus menunjukkan ketahanan kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2025 yang naik menjadi 53,50, menandakan sektor manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansi dan optimisme pelaku industri tetap terjaga.

Angka ini juga lebih tinggi dari capaian periode yang sama tahun lalu yakni 52,75 poin, menegaskan konsistensi ekspansi sektor manufaktur sepanjang 2025.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menjelaskan bahwa kinerja positif ini didukung oleh stabilitas makroekonomi nasional. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen, yang membantu menjaga akses pembiayaan industri tetap terjangkau.

Selain itu, neraca perdagangan yang mencatat surplus selama 64 bulan berturut-turut serta pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2025 sebesar 5,12 persen (yoy) menjadi fondasi kuat bagi ekspansi sektor manufaktur.

"Dari 23 subsektor industri pengolahan yang kami analisis, sebanyak 22 subsektor masih berada dalam fase ekspansi dan berkontribusi hingga 98,8 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Hanya satu subsektor, yakni industri tekstil, yang mengalami kontraksi akibat pelemahan konsumsi domestik dan tekanan impor," ujar Febri saat Rilis IKI Oktober 2025 di Jakarta, Kamis (30/10/2025).

Ia menambahkan, Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12) dan Industri Kertas dan Barang dari Kertas (KBLI 17) menjadi dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi, didorong peningkatan permintaan dalam negeri dan ekspor. Sementara Industri Kayu dan Produk Anyaman (KBLI 16) mencatat lonjakan pesanan ekspor menjelang akhir tahun, terutama dari Jepang dan Eropa.

Febri juga mendukung langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang gencar memberantas peredaran rokok ilegal dan pakaian thrifting impor. "Ketegasan itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo dan sangat positif karena melindungi industri dalam negeri," tegasnya.

Berdasarkan komponen penyusun indeks, peningkatan IKI Oktober didorong oleh menguatnya permintaan (demand) yang tercermin dari variabel pesanan baru, naik 1,46 poin menjadi 55,25, serta persediaan barang jadi yang tetap ekspansif di level 56,52. Namun, variabel produksi masih dalam fase kontraksi di angka 48,57, menandakan pelaku industri masih berhati-hati dalam menambah output karena permintaan belum sepenuhnya pulih.

Sektor kertas dan kemasan juga mendapat dorongan positif berkat kebijakan pembatasan penggunaan plastik, sedangkan penjualan kendaraan listrik (EV) di sektor otomotif mencapai 55.225 unit sepanjang Januari-September 2025, melampaui total penjualan tahun 2024.

Industri furnitur (KBLI 31) turut terdongkrak lewat program Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang memperkuat permintaan produk lokal melalui e-katalog pemerintah dan peningkatan ekspor.

Secara pasar, baik industri berorientasi ekspor maupun domestik menunjukkan tren membaik. IKI ekspor naik 0,36 poin ke level 54,35, sementara IKI domestik meningkat 0,42 poin ke 52,34. "Kami melihat ada efek positif dari peningkatan belanja pemerintah untuk produk dalam negeri," jelas Febri.

Optimisme pelaku industri pun terus meningkat. Sebanyak 70,5 persen responden memperkirakan kondisi usaha enam bulan ke depan akan membaik, naik dari 69,6 persen pada September. Tingkat pesimisme pun menurun menjadi 5,4 persen.

Kemenperin, lanjut Febri, berkomitmen menjaga momentum positif ini melalui kebijakan pro-industri, antara lain penguatan pasar domestik, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), pengendalian impor selektif, serta penyediaan energi industri yang kompetitif.

Pemerintah juga terus memperkuat daya saing sektor manufaktur lewat Program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi tujuh sektor industri, fasilitasi sertifikasi TKDN, dan penguatan struktur industri berbasis sumber daya lokal.

"Dengan IKI yang tetap ekspansif dan optimisme pelaku usaha yang meningkat, kami yakin industri manufaktur akan terus menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja nasional," pungkas Febri.

Editor: Gokli