Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Kinerja Intermediasi Perbankan yang Solid Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Oleh : Aldy Daeng
Sabtu | 11-10-2025 | 17:08 WIB
grafik-ekonomi-23.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI) Triwulan II-2025, yang mencatat kinerja industri perbankan nasional tetap solid dengan risiko terjaga. Kondisi ini dinilai turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan hingga posisi Juni 2025, fungsi intermediasi perbankan berjalan positif. Hal ini tercermin dari peningkatan penyaluran kredit dan penghimpunan dana masyarakat yang kuat.

Menurutnya, kualitas aset perbankan menunjukkan perbaikan dengan risiko kredit yang menurun. Sementara kondisi likuiditas berada pada tingkat memadai, didukung cadangan likuiditas jauh di atas ketentuan minimum.

"OJK terus mendorong bank-bank untuk mengedepankan prinsip kehati-hatian, profesionalisme, inovasi, dan integritas, agar pertumbuhan sektor perbankan tetap sehat dan berkelanjutan," ujar Dian, Jumat (11/10/2025).

OJK mencatat hingga Agustus 2025, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 8,51 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit yang sebesar 7,56 persen (yoy).

Rasio kredit bermasalah (NPL gross) juga stabil di level 2,28 persen, mencerminkan risiko kredit yang tetap terkendali. Likuiditas perbankan terjaga dengan rasio AL/NCD dan AL/DPK masing-masing 120,25 persen, berada di atas ambang batas.

Sementara itu, rasio kecukupan modal (CAR) tercatat tinggi di angka 26,03 persen, meningkat berkat pertumbuhan laba.

Dian menegaskan, dengan kondisi yang solid ini, perbankan diharapkan terus fokus menjalankan fungsi intermediasi, menjaga profesionalisme, serta mempertahankan kepercayaan masyarakat.

OJK meminta seluruh bank memperkuat aspek prudensial dan meningkatkan daya tahan melalui penguatan permodalan. Bank juga diminta menjaga Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) secara memadai untuk mengantisipasi risiko kredit di masa depan.

Selain itu, OJK menekankan pentingnya stress test dan asesmen rutin terhadap kekuatan permodalan guna menghadapi potensi penurunan kualitas aset akibat perubahan kondisi makroekonomi.

"Ketahanan likuiditas juga terus dipantau, terutama menghadapi ketidakpastian ekonomi dan perubahan kebijakan global maupun domestik yang cepat," tambahnya.

Laporan LSPI kali ini juga memuat kajian khusus bertema "Peran Strategis Industri Otomotif Indonesia Segmen Kendaraan Bermotor Roda Empat atau Lebih: Kontribusi, Tantangan, dan Peluang Pertumbuhan di Tengah Dinamika Ekonomi."

Dalam kajian itu disebutkan, industri otomotif berperan penting dalam mendorong perekonomian nasional melalui kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang luas.

Meski pertumbuhan industri otomotif dalam beberapa tahun terakhir cenderung fluktuatif, posisi Indonesia di kancah global justru semakin kuat. Pada 2024, Indonesia berhasil masuk 15 besar produsen kendaraan dunia, bersaing dengan negara-negara besar lain.

Sinergi antara industri otomotif, lembaga keuangan, dan pemerintah dinilai dapat mengubah berbagai tantangan menjadi peluang pertumbuhan baru bagi ekonomi nasional.

Laporan lengkap Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI) Triwulan II-2025 dapat diakses melalui laman resmi OJK di: https://www.ojk.go.id/id/kanal/perbankan/data-dan-statistik/laporan-profil-industri-perbankan/.

Editor: Yudha