Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menaker Yassierli Dorong 'Next Practices' Hadapi Transformasi Dunia Kerja di Era Digital
Oleh : Redaksi
Kamis | 04-09-2025 | 15:48 WIB
Beyond-Summit-2025.jpg Honda-Batam
Menaker Yassierli, saat menghadiri Indonesia Human Capital & Beyond Summit 2025 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (3/9/2025). (Kemnaker)

BATAMTODAY.COM, Tangerang - Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan Indonesia perlu melahirkan next practices --pendekatan baru yang menggabungkan praktik global dengan kearifan lokal-- untuk menjawab tantangan ketenagakerjaan di era disrupsi teknologi dan perubahan sosial.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menekankan pentingnya paradigma baru dalam menghadapi dinamika dunia kerja. Menurutnya, sekadar menyalin best practices dari negara lain tidak cukup untuk menjawab kompleksitas yang terjadi di Indonesia.

"Indonesia harus mampu melahirkan next practices yang memadukan praktik terbaik global dengan kearifan lokal bangsa," ujar Yassierli saat menjadi pembicara kunci dalam Indonesia Human Capital & Beyond Summit 2025 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (3/9/2025).

Ia menjelaskan, sejumlah persoalan mendesak harus segera ditangani, termasuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan, pelatihan, dan kebutuhan industri. Yassierli menegaskan hal itu merupakan amanat konstitusi yang menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak.

Selain isu klasik seperti upah tidak dibayar, diskriminasi, dan pesangon yang belum terpenuhi, muncul pula tantangan baru dari pekerja platform digital yang membutuhkan kepastian perlindungan hukum. "Semua ini menegaskan pentingnya hubungan industrial yang sehat serta regulasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman," jelasnya.

Yassierli juga menyoroti perlunya mengubah cara pandang terhadap pekerja. Ia menekankan bahwa tenaga kerja tidak boleh dilihat sekadar sebagai beban, melainkan sebagai aset bangsa. Pergeseran dominasi angkatan kerja ke generasi milenial dan Gen Z, menurutnya, harus disikapi dengan memberikan ruang inovasi serta sistem kerja yang fleksibel dan bermakna.

"Generasi muda bekerja bukan hanya untuk penghasilan, tapi juga untuk menemukan makna. Survei menunjukkan 24% di antaranya rela meninggalkan pekerjaan jika tidak menemukan purpose," ungkapnya.

Ia menambahkan, kompetensi masa depan tak hanya bertumpu pada keterampilan teknis, melainkan juga learning agility, emotional intelligence, dan design thinking. Menurutnya, birokrasi yang agile dan berpusat pada manusia dapat membawa perubahan besar bagi bangsa.

Di penghujung sambutannya, Yassierli menegaskan komitmen Kementerian Ketenagakerjaan untuk menjadi tempat yang mendukung pertumbuhan semua pihak. "Kami ingin menjadikan Kementerian Ketenagakerjaan sebagai a nice place to grow for everybody --bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang untuk tumbuh dan berkembang bersama," tutupnya.

Editor: Gokli