Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Sektor Pariwisata Semester I-2025 Catat Pertumbuhan Positif
Oleh : Redaksi
Senin | 18-08-2025 | 12:08 WIB
wisata.jpg Honda-Batam
Kinerja sektor pariwisata nasional pada semester I 2025 menunjukkan tren pertumbuhan positif. (Kemenpar)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kinerja sektor pariwisata nasional pada semester I-2025 menunjukkan tren pertumbuhan positif. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan capaian ini menjadi bukti bahwa program Kementerian Pariwisata tepat sasaran dan memberi manfaat nyata bagi perekonomian nasional.

"Tren positif ini tercermin dalam kinerja kumulatif Januari-Juni 2025, di mana pertumbuhan wisatawan yang berlibur di dalam negeri lebih tinggi dibandingkan yang bepergian ke luar negeri," kata Widiyanti saat menyampaikan Laporan Bulanan Kementerian Pariwisata di Jakarta, Sabtu (16/8/2025), didampingi Wakil Menteri Ni Luh Puspa, demikian dikutip siaran pers Kemenpar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,05 juta pada periode Januari-Juni 2025, tumbuh 9,44 persen (yoy). Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri yang hanya 4,57 juta atau tumbuh 3,25 persen.

"Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara kembali berada di atas perjalanan wisatawan nasional, dengan selisih 2,48 juta. Pergerakan ini turut mendongkrak net devisa positif bagi Indonesia," jelas Widiyanti.

Dari sisi pertumbuhan bulanan, wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia sepanjang Juni 2025 mencapai 1,42 juta, naik 18,20 persen (yoy). Wisatawan nusantara juga tumbuh pesat, dengan total 105,12 juta perjalanan atau naik 25,93 persen.

Sementara itu, perekonomian Indonesia pada kuartal II 2025 tumbuh 5,12 persen, lebih tinggi dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 5,05 persen. "Kita patut bersyukur, di tengah tantangan geopolitik global, sektor pariwisata tetap menjadi penopang PDB sekaligus menjaga resiliensi ekonomi nasional," ujar Widiyanti.

Pemerintah, lanjutnya, telah menyiapkan berbagai stimulus agar laju pertumbuhan tetap terjaga. Dari sisi supply, insentif berupa potongan tarif pesawat, kereta api, kapal laut, dan tol diberikan untuk menekan biaya perjalanan. Dari sisi demand, penebalan bantuan sosial, subsidi upah, hingga gaji ke-13 diberikan guna menjaga daya beli masyarakat.

Kemenpar juga melanjutkan program prioritas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, termasuk penguatan Koperasi Merah Putih di desa wisata. "Proyek percontohan dimulai di 80 desa wisata dan ditargetkan menjangkau lebih dari 6.000 desa. Ini menjadi pilar ekonomi berbasis komunitas," kata Widiyanti.

Meski demikian, Widiyanti menyoroti turunnya okupansi hotel bintang sebesar 3,54 poin persentase pada Januari–Juni 2025. Ia menilai tren ini bukan akibat melemahnya minat wisata, melainkan pergeseran ke akomodasi alternatif seperti vila.

"Kami menghargai pertumbuhan akomodasi alternatif, namun jika tidak terdaftar dan tidak berizin, tentu menimbulkan ketidakadilan bagi pelaku hotel dan risiko bagi konsumen," tegasnya.

Sementara itu, Wamenpar Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa 110 Karisma Event Nusantara (KEN) turut menjadi motor penggerak pariwisata daerah. Hingga awal Agustus 2025, sebanyak 46 event di 25 provinsi telah digelar, dengan total 5,07 juta pengunjung, transaksi Rp 463,07 miliar, serta melibatkan lebih dari 6.000 UMKM dan 68 ribu pekerja seni.

Selain itu, Ni Luh juga optimistis Geopark Toba akan kembali meraih status green card usai revalidasi UNESCO pada Juli lalu. "Kami sangat optimis Geopark Toba kembali mendapat status green card. Jika berhasil, mari kita rawat bersama status tersebut," ujarnya.

Editor: Gokli