Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menag Targetkan MQK Internasional Jadi Tradisi Keilmuan Dunia
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 15-08-2025 | 14:08 WIB
Menag-MQK.jpg Honda-Batam
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, saat membuka Rapat Koordinasi Dewan Hakim MQK Internasional Ke-1 Tahun 2025 di Jakarta, Rabu (13/8/2025). (Kemenag)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menargetkan Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) Internasional yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia dapat berkembang menjadi tradisi keilmuan global, sebagaimana Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) yang kini diadopsi banyak negara.

"MTQ pertama kali dilembagakan oleh Indonesia, dan kini banyak negara mengikuti tradisi ini. Harapan saya, MQK juga bisa menular ke negara-negara lain, termasuk negara Arab," ujar Nasaruddin, saat membuka Rapat Koordinasi Dewan Hakim MQK Internasional Ke-1 Tahun 2025 di Jakarta, Rabu (13/8/2025), demikian dikutip laman Kemenperin.

Menag menegaskan, memahami kitab kuning tidak cukup hanya menguasai bahasa Arab secara gramatikal, tetapi juga memerlukan pemahaman mendalam atas budaya dan karakter yang melatarbelakangi bahasa tersebut. Ia mengingatkan dewan hakim untuk menilai secara objektif, mengingat peserta berasal dari beragam latar belakang pemikiran dan mazhab.

"Bagaimana mengukur kemerdekaan berpikir peserta MQK harus disepakati bersama. Jangan sampai perbedaan mazhab memengaruhi penilaian. Objektivitas adalah kunci," tegasnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, mengungkapkan sejumlah negara telah mengonfirmasi keikutsertaan, antara lain Brunei Darussalam, Kamboja, Timor Leste, Malaysia, Myanmar, Vietnam, dan Indonesia, sementara Singapura dan Filipina akan mengirim observer.

"Juri MQK kali ini bertaraf internasional, melibatkan tokoh dan pakar dari negara-negara peserta untuk memastikan penilaian objektif, transparan, dan sesuai standar keilmuan dunia pesantren," kata Amien.

Amien menambahkan, MQK Internasional 2025 menjadi momentum percepatan digitalisasi pesantren, karena seluruh proses penilaian dilakukan secara paperless mulai dari input hingga rekapitulasi nilai.

"Kalau para kiai sudah terbiasa menggunakan teknologi, tentu santri akan lebih cepat mengikuti. MQK ini sekaligus menjadi laboratorium penerapan teknologi di pesantren," pungkasnya.

Editor: Gokli