Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Ekonomi Global Melambat, Domestik Tetap Tangguh Hadapi Ketidakpastian
Oleh : Aldy Daeng
Rabu | 30-07-2025 | 10:28 WIB
kehumasan-BI.jpg Honda-Batam
Capacity Building Kehumasan 2025 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan BI Provinsi Kepulauan Riau di Jakarta, Rabu (30/7/2025). (Foto: Aldy Daeng)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat menjelang diberlakukannya kebijakan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat terhadap sejumlah negara maju dan berkembang mulai 1 Agustus 2025.

Langkah proteksionis tersebut dinilai dapat memperlambat laju pemulihan ekonomi global, khususnya di negara-negara seperti AS, Eropa, dan Jepang.

Hal tersebut disampaikan oleh Ikhsan Utama, perwakilan dari Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), dalam acara Capacity Building Kehumasan 2025 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan BI Provinsi Kepulauan Riau di Jakarta, Rabu (30/7/2025).

"Secara umum, ketidakpastian global masih meningkat, meskipun mulai menunjukkan kecenderungan stabil. Namun, pertumbuhan ekonomi dunia tetap diprakirakan melambat," ujar Ikhsan.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2025 hanya mencapai 3,0 persen. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran moneter yang belum efektif di negara maju, pemulihan ekonomi Tiongkok yang belum solid, serta kuatnya permintaan domestik yang menjaga ketangguhan ekonomi India.

"Salah satu pemicu utama naiknya indeks ketidakpastian global adalah meningkatnya Trade Policy Uncertainty. Ini menjadi perhatian serius bagi kami," jelas Ikhsan.

Ekonomi Nasional Tetap Solid di Tengah Tekanan Global

Di tengah ketidakpastian global, BI menilai perekonomian Indonesia tetap berada di jalur positif. Pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II 2025 diperkirakan berada di kisaran 4,6 hingga 5,4 persen.

Ikhsan menjelaskan, proyeksi ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain peningkatan permintaan domestik, kinerja ekspor yang tetap baik termasuk hasil negosiasi tarif dengan AS, serta respons bauran kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia yang mendorong optimisme dunia usaha.

"Kami terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk memastikan pertumbuhan tetap terjaga," ungkap Ikhsan.

Neraca Pembayaran dan Cadangan Devisa Tetap Kuat

Bank Indonesia juga menyampaikan bahwa kondisi neraca pembayaran Indonesia (NPI) masih terjaga dengan baik. Surplus neraca perdagangan pada Mei 2025 tercatat sebesar USD 4,3 miliar, jauh meningkat dari USD 0,2 miliar pada April. Selain itu, aliran modal asing tetap positif, terutama pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang mencatat net inflow sebesar USD 0,9 miliar hingga pertengahan Juli.

Cadangan devisa per akhir Juni 2025 pun tetap kuat di angka USD 152,6 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor --melebihi standar kecukupan internasional. "Defisit transaksi berjalan kami juga diperkirakan rendah, hanya sekitar 0,5 hingga 1,3 persen terhadap PDB. Ini menunjukkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," terang Ikhsan.

Inflasi Terjaga, Stabilitas Ekonomi Tetap Terkendali

Laju inflasi nasional juga dinilai tetap dalam kendali. Indeks Harga Konsumen (IHK) per Juni 2025 mencatat inflasi sebesar 1,87 persen (yoy). Rendahnya angka ini didorong oleh stabilitas inflasi inti, volatile food, dan administered prices.

Inflasi inti tercatat 2,37 persen (yoy), sementara inflasi volatile food hanya 0,57 persen, berkat kecukupan pasokan pangan dan penguatan program sinergi pengendalian inflasi daerah. Inflasi harga yang diatur pemerintah juga terkendali di 1,34 persen, meski terdapat penyesuaian tarif air dan cukai tembakau.

"Ke depan, inflasi 2025-2026 diprakirakan tetap dalam sasaran 2,5+/-1 persen, seiring terkendalinya ekspektasi inflasi dan meningkatnya digitalisasi," kata Ikhsan.

Komitmen BI: Jaga Stabilitas, Dorong Pertumbuhan

Menutup paparannya, Ikhsan menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui kebijakan yang terintegrasi. "Langkah-langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika global yang penuh ketidakpastian," tutupnya.

Editor: Gokli