Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Tarif Impor AS Turun, Pemerintah Optimistis Perkuat Ekspor dan Investasi Indonesia
Oleh : Redaksi
Rabu | 23-07-2025 | 13:28 WIB
UOB.jpg Honda-Batam
Diskusi bersama para pemimpin redaksi media nasional bertajuk UOB Media Editors Circle yang digelar di Jakarta, Selasa (22/7/2025). (Foto: Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia berhasil mencapai kesepakatan penting terkait kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) terhadap produk asal Indonesia.

Dalam kesepakatan tersebut, tarif yang semula berada di angka 32% berhasil ditekan menjadi 19%. Penurunan tarif ini diyakini akan memberikan dorongan signifikan bagi kinerja ekspor nasional dan menarik lebih banyak investasi asing masuk ke Tanah Air.

Dalam diskusi bersama para pemimpin redaksi media nasional bertajuk UOB Media Editors Circle yang digelar di Jakarta, Selasa (22/7/2025), Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari pendekatan komprehensif pemerintah dalam merespons kebijakan perdagangan AS.

"Indonesia termasuk yang responsnya cepat. Kami datang dengan dokumen dan penawaran yang lengkap, mencakup tarif, non-tarif, pembelian produk Amerika, hingga investasi. Paket lengkap inilah yang diapresiasi oleh pihak Amerika," jelas Susiwijono.

Ia menambahkan posisi Indonesia saat ini cukup strategis dibandingkan negara-negara di kawasan ASEAN dan pesaing global lainnya, karena memiliki tarif yang lebih kompetitif. Hal ini tidak hanya mendongkrak potensi ekspor, tetapi juga membuat Indonesia semakin atraktif sebagai tujuan relokasi industri global.

"Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, justru ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dan memperkuat ekonomi," ujarnya.

Susiwijono juga menjelaskan meskipun tarif baru telah disepakati, penerapannya akan bergantung pada selesainya proses negosiasi dan penyusunan pernyataan bersama (joint statement) antara kedua negara. Selama belum ada kesepakatan final, Indonesia masih dikenakan tarif Most Favoured Nation (MFN) ditambah 10%.

"Jika sampai 1 Agustus belum ada joint statement yang dipublikasikan, maka tarif sementara tetap MFN +10%. Setelah kesepakatan resmi diumumkan, barulah berlaku tarif MFN +19%," katanya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa kebijakan perdagangan Indonesia tidak berhenti pada isu tarif dengan AS saja. Pemerintah juga tengah memperluas akses pasar ekspor melalui sejumlah perjanjian dagang internasional seperti IEU-CEPA, FTA, dan CPTPP, serta mendorong substitusi impor dan peningkatan peran Indonesia dalam rantai pasok global.

"Kami tidak khawatir jika ada trade deal yang memungkinkan barang-barang dari AS masuk dengan tarif nol persen. Asalkan produk-produk tersebut tidak bersaing langsung dengan produksi dalam negeri," tegasnya.

Menutup diskusi, Susiwijono menyampaikan bahwa pemerintah tetap optimistis mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,2% pada 2025. Sejumlah kebijakan lanjutan sedang disiapkan dan akan diumumkan pada kuartal ketiga tahun ini.

"Kebijakan lanjutan ini sedang difinalisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," pungkasnya.

Editor: Gokli