Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Industri Manufaktur Terus Jadi Tulang Punggung Ekspor Nasional, Ekspor Baja Indonesia Tembus Pasar AS
Oleh : Redaksi
Senin | 21-07-2025 | 12:08 WIB
ekspor-baja1.jpg Honda-Batam
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam acara Pelepasan Ekspor Produk Baja Lapis PT Tata Metal Lestari ke Amerika Serikat, yang digelar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/7/2025). (Foto: Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Sektor industri manufaktur kembali menunjukkan taringnya sebagai penopang utama ekspor nasional. Sepanjang 2024, nilai ekspor sektor ini mencapai USD 196,5 miliar, berkontribusi sebesar 74,25 persen terhadap total ekspor nasional. Angka tersebut mencatat kenaikan 5,11 persen dibanding tahun sebelumnya.

"Pertumbuhan ekspor ini menegaskan ketangguhan industri manufaktur Indonesia yang terus berkembang dari hulu ke hilir," ujar Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam acara Pelepasan Ekspor Produk Baja Lapis PT Tata Metal Lestari ke Amerika Serikat, yang digelar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/7/2025).

Agus juga mengungkapkan bahwa pada triwulan I tahun 2025, sektor manufaktur mencatat surplus perdagangan sebesar USD 10,4 miliar, dengan nilai ekspor mencapai USD 52,9 miliar atau setara 79,4 persen dari total ekspor nasional. Surplus ini turut menyumbang dominasi Indonesia dalam kinerja perdagangan global.

Mengutip Trading Economics dan laporan resmi dari Menteri Keuangan yang dirilis Reuters, Indonesia mencatat surplus perdagangan USD 4,9 miliar pada Mei 2025. Berdasarkan pemeringkatan World Visualized, Indonesia kini menduduki peringkat ke-3 dunia dalam hal surplus perdagangan, di bawah Tiongkok dan Jerman, namun berada di atas Rusia dan Malaysia.

"Data ini jelas menampik anggapan bahwa Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi. Sebaliknya, kinerja manufaktur kita membuktikan bahwa struktur industri nasional justru semakin kokoh dan produktif," tegas Agus.

Lebih lanjut, Menperin menyoroti kinerja industri logam dasar yang menjadi tulang punggung pengembangan industri di banyak negara maju. Di Indonesia, subsektor ini tumbuh paling tinggi dalam triwulan I tahun 2025, yakni 14,47 persen year-on-year (yoy) dan menyumbang 1,10 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

"Peningkatan ini tidak lepas dari kuatnya ekspansi produksi serta implementasi hilirisasi nasional yang konsisten meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri," ujarnya.

Agus juga menekankan bahwa industri baja nasional kini memainkan peran penting dalam menopang berbagai sektor strategis seperti infrastruktur, otomotif, teknologi, energi, hingga galangan kapal. Berdasarkan data dari World Steel Association, Indonesia berada di peringkat ke-14 dunia dalam produksi baja mentah (crude steel) pada tahun 2024 dengan produksi 17 juta ton, naik hampir dua kali lipat dari tahun 2019.

"Kami menargetkan dalam tiga sampai empat tahun ke depan, posisi Indonesia naik ke peringkat 10 atau 11 dunia," katanya.

Saat ini, kapasitas terpasang produksi crude steel nasional berada pada 21 juta ton, dengan target peningkatan menjadi 27 juta ton pada 2029. Capaian ini mencerminkan optimisme pemerintah dalam memperkuat daya saing industri baja Indonesia secara global.

Untuk mendukung percepatan pertumbuhan industri baja, pemerintah menggulirkan sejumlah kebijakan strategis, seperti:

  • Penegakan hukum melalui trade remedies,
  • Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara wajib,
  • Penyediaan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT),
  • Pengutamaan penggunaan produk dalam negeri pada proyek pemerintah,
  • Penyediaan insentif fiskal, serta
  • Implementasi industri hijau.

"Langkah-langkah ini kami tempuh untuk memastikan peningkatan kapasitas dan utilisasi produksi secara berkelanjutan, serta memperkuat daya saing baja nasional di pasar domestik maupun ekspor," pungkas Menperin.

Editor: Gokli