Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Arief Poyuono Nilai Kesepakatan Dagang Prabowo-Trump Untungkan Perekonomian Rakyat
Oleh : Redaksi
Jumat | 18-07-2025 | 19:47 WIB
05-02_arief-poyuono-2_03493483481.jpg Honda-Batam
Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Arief Poyuono. (Dok BTD)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia dan Amerika Serikat telah menyepakati penurunan tarif bea masuk secara resiprokal dari 32 persen menjadi 19 persen. Kesepakatan ini, kata dia, dicapai setelah negosiasi yang berlangsung alot dengan Presiden AS Donald Trump.

"Trump itu negosiator keras juga. Tapi akhirnya kita saling memahami kepentingan masing-masing," ujar Prabowo saat kembali dari lawatannya ke sejumlah negara.

Di balik kesepakatan itu, Trump turut menyampaikan bahwa produk asal Amerika Serikat akan dibebaskan dari tarif masuk ke Indonesia alias nol persen. "Mereka akan membayar 19 persen, sementara kami tidak akan membayar apa pun," ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih. Ia bahkan memuji Prabowo sebagai pemimpin yang terbuka untuk kerja sama.

Kesepakatan tersebut mencakup berbagai komoditas, seperti gandum, kedelai, migas, hingga pembelian pesawat Boeing 777. Prabowo menyebut Indonesia masih membutuhkan impor untuk komoditas strategis tersebut, dan negosiasi dengan AS disebutnya sebagai langkah realistis dalam menjaga pasokan dalam negeri.

Namun, sejumlah ekonom menyangsikan keuntungan kesepakatan ini. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan posisi tawar Indonesia tampak lemah dalam negosiasi ini. "Justru ini bisa menjadi preseden buruk, karena bisa dimanfaatkan negara lain untuk menuntut perlakuan serupa," katanya.

Di sisi lain, Arief Poyuono dari Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu menilai kebijakan ini justru akan memberi dampak langsung bagi rakyat kecil. "Harga konsumsi akan lebih murah karena biaya impor lebih efisien," kata Arief dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/7/2025).

Ia mencontohkan, jika Indonesia mengimpor migas senilai Rp247 triliun, maka dengan perhitungan biaya pengiriman dan asuransi sebesar 10 persen, total nilai impor menjadi Rp265,4 triliun. Dengan asumsi bea masuk lima persen, nilai total menjadi Rp278,7 triliun. Setelah dikenai PPN 11 persen dan pajak penghasilan pasal 22 sebesar 2,5 persen, total biaya impor migas bisa mencapai Rp309 triliun.

"Dengan tarif nol persen, harga BBM dan LPG bisa ditekan. Tapi syaratnya: impor harus dilakukan langsung antara pemerintah dan Pertamina, bukan lewat broker," kata Arief. Ia menyebut nama Muhammad Riza Chalid sebagai contoh broker yang menurutnya kerap merugikan negara melalui praktik mark up harga.

Selain migas, Arief juga menyoroti dampak positif dari pembebasan tarif atas komoditas pangan seperti kedelai, jagung, dan pakan ternak. "Harga tahu, tempe, susu kedelai, hingga daging ayam bisa ikut turun," ujarnya.

Ia bahkan menyebut bahwa kerja sama ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan hubungan dagang Indonesia-Tiongkok selama ini. "Makanya Tiongkok kebakaran jenggot," kata Arief.

Bagi Arief, komoditas seperti BBM dan pangan adalah penyumbang terbesar inflasi dan beban ekonomi masyarakat. Jika harga-harga ini bisa ditekan, daya beli masyarakat berpotensi membaik.

Terkait rencana pembelian 50 pesawat Boeing 777, Arief menyebutnya sebagai bagian dari kesepakatan yang juga menguntungkan. Namun ia enggan merinci bentuk keuntungannya. "Biar pemerintah yang mikir. Saya ogah kasih tahu," katanya sambil tertawa.

Editor: Yudha