Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pemerintah Dorong Reformasi Struktural Industri Tekstil, Tekankan Inovasi dan Kolaborasi
Oleh : Redaksi
Jum\'at | 18-07-2025 | 10:28 WIB
deputi-rudy.jpg Honda-Batam
Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kemenko Perekonomian, Mohammad Rudy Salahuddin. (Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan iklim investasi yang sehat dan kompetitif, termasuk bagi sektor industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) yang selama ini berperan sebagai pilar penting dalam perekonomian nasional.

Meski dihadapkan pada tantangan global yang kompleks, industri TPT tetap menjadi penyumbang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja.

Namun demikian, reformasi struktural dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar sektor ini dapat bertahan dan tumbuh berkelanjutan. "Industri tekstil dan pakaian jadi menghadapi tantangan sangat kompleks. Padahal, kontribusinya terhadap PDB dan serapan tenaga kerja sangat substansial. Untuk itu, dibutuhkan reformasi struktural agar sektor ini tetap tangguh," ujar Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kemenko Perekonomian, Mohammad Rudy Salahuddin, saat membuka Forum Diskusi bertajuk Strategi Pengembangan Ekosistem Tekstil dan Pakaian Jadi di Indonesia, Kamis (17/7/2025) di Jakarta, demikian dikutip laman Kemenko Perekonomian.

Dalam forum yang dihadiri perwakilan asosiasi industri, akademisi, pelaku ritel, dan lembaga energi berkelanjutan tersebut, Pemerintah menyampaikan arah kebijakan penguatan industri TPT ke depan. Strategi yang dikedepankan antara lain: penguatan struktur industri dari hulu ke hilir, peningkatan nilai tambah, akselerasi inovasi, serta penciptaan SDM kompeten.

"Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan produk dasar. Industri harus bertransformasi ke arah produk bernilai tambah tinggi yang berorientasi pada keberlanjutan," tegas Deputi Rudy.

Data pemerintah menunjukkan, meski berperan besar dalam perekonomian, industri TPT saat ini mengalami perlambatan. Sejumlah tantangan utama yang dihadapi mencakup penurunan daya saing, ketergantungan pada impor bahan baku dan produk jadi, rendahnya tingkat utilisasi pabrik, serta meningkatnya kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tekanan dari dinamika geopolitik dan perang dagang global turut memperburuk situasi.

Menanggapi kondisi tersebut, forum diskusi menjadi wadah strategis bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menyatukan visi dan merumuskan langkah konkret. Perwakilan asosiasi industri, dalam sesi diskusi, menyoroti pentingnya integrasi rantai pasok hulu-hilir, inovasi produk, serta perlindungan pasar domestik untuk menjaga keberlangsungan industri padat karya ini.

"Inovasi memang penting untuk peningkatan ekspor, tetapi perlindungan terhadap pasar dalam negeri juga krusial bagi kelangsungan industri TPT," ujar salah satu perwakilan asosiasi.

Forum ini diharapkan dapat menjadi titik awal konsolidasi nasional dalam memperkuat industri tekstil Indonesia agar mampu bersaing secara global, serta menciptakan ekosistem industri yang modern dan adaptif terhadap perubahan zaman.

"Kami yakin, melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan seluruh stakeholder terkait, kita dapat membangun industri TPT Indonesia yang berdaya saing global," tutup Deputi Rudy.

Editor: Gokli