Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

KUR Tembus Rp131,84 Triliun di Semester I-2025, Dorong Produktivitas dan Wujudkan Indonesia Emas
Oleh : Redaksi
Senin | 14-07-2025 | 11:08 WIB
KUR-I-2025.jpg Honda-Batam
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenko Perekonomian)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencatat realisasi penyaluran sebesar Rp131,84 triliun hingga semester pertama 2025, atau setara 45,86 persen dari target tahun ini.

Pencapaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semakin antusias memanfaatkan akses pembiayaan bersubsidi Pemerintah, di tengah upaya pemulihan ekonomi nasional yang masih dibayangi ketidakpastian global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan hingga 30 Juni 2025, KUR telah menjangkau 2,28 juta debitur. Ia juga menegaskan tingkat kredit bermasalah (NPL) KUR tetap terjaga pada angka 2,38 persen, jauh lebih rendah dibandingkan NPL kredit UMKM secara umum yang tercatat sebesar 4,36 persen.

"Capaian KUR semester I 2025 cukup positif. Yang lebih penting, 60 persen penyaluran KUR berhasil masuk ke sektor produksi sesuai target kita. Ini menunjukkan KUR benar-benar mendorong produktivitas UMKM," kata Airlangga dalam Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Pembiayaan KUR bagi UMKM di Jakarta, Jumat (11/7/2025), demikian dikutip laman resmi Kemenko Perekonomian.

Sebagai upaya mendukung visi Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo, Pemerintah telah menyiapkan dua terobosan besar kebijakan KUR. Salah satu terobosan tersebut adalah skema khusus pembiayaan sektor pertanian pangan, terutama komoditas tebu, guna mewujudkan target swasembada gula konsumsi pada 2028.

"Bayangkan, 86 persen tanaman tebu milik rakyat sudah menua dan perlu segera diremajakan. Tanpa intervensi cepat, mimpi swasembada gula akan sulit dicapai. Kemudahan KUR untuk sektor pertanian khususnya komoditas tebu rakyat hadir sebagai solusi konkret," tegas Airlangga.

Melalui kebijakan ini, Pemerintah memberikan kemudahan akses KUR bagi petani tebu rakyat, termasuk mereka yang sebelumnya telah mengakses kredit komersial. Para mitra usaha (off-taker) juga diberi kewenangan untuk memvalidasi kelompok tani binaan, sehingga proses pencairan KUR Khusus dapat berjalan lebih cepat. Selain itu, debitur binaan off-taker yang bertindak sebagai penjamin (avalist) dapat terbebas dari kewajiban menyerahkan agunan tambahan, karena jaminan cukup berupa usaha yang dibiayai.

Terobosan lainnya adalah skema KUR untuk mendukung Program Tiga Juta Rumah. Pemerintah membuka peluang pembiayaan murah hingga Rp 5 miliar bagi pengembang, kontraktor, dan pedagang material bangunan skala UMKM, dengan subsidi bunga tetap sebesar 5 persen per tahun.

Di sisi permintaan, UMKM yang ingin membeli, membangun, atau merenovasi rumah untuk mendukung kegiatan usaha juga diberikan akses pembiayaan hingga Rp 500 juta dengan bunga berjenjang antara 6 persen hingga 9 persen per tahun, dan tenor pinjaman sampai lima tahun.

"Sektor perumahan memiliki multiplier effect ekonomi yang dahsyat. Setiap Rupiah yang masuk akan menghasilkan Rp 1,74 output ekonomi. Belum lagi potensi menyerap 13,8 juta tenaga kerja per tahun. Ini bukan sekadar membangun rumah, tapi membangun masa depan ekonomi," jelas Airlangga.

Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah menambah plafon KUR tahun 2025 sebesar Rp 117 triliun di luar plafon yang sudah ada. Anggaran subsidi bunga atau subsidi marjin juga ditambah Rp 1,2 triliun untuk memperkuat pembiayaan.

Semester pertama 2025 turut mencatat kemajuan signifikan dalam inklusi keuangan. Tercatat lebih dari satu juta pelaku usaha baru pertama kali mengakses KUR, sementara sekitar 500 ribu debitur berhasil naik kelas atau graduasi. Hal ini menjadi bukti bahwa KUR tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga mendorong pelaku usaha untuk lebih mandiri.

Airlangga mengapresiasi peran Pemerintah Daerah yang dinilai berkontribusi signifikan dalam memperluas akses KUR. Dari 1,87 juta calon debitur yang datanya diunggah pemda, sebanyak 1,27 juta berhasil dikonversi menjadi debitur aktif. Provinsi Maluku Utara, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan menjadi daerah dengan tingkat konversi tertinggi, menunjukkan keseriusan daerah dalam mendukung UMKM.

Selain KUR, Airlangga juga menyebut program Kredit Alsintan (alat dan mesin pertanian) telah disiapkan melalui 15 bank penyalur untuk mendukung mekanisasi pertanian. Sementara Kredit Industri Padat Karya (KIPK) tengah dirampungkan regulasinya.

Pemerintah telah menyiapkan anggaran subsidi bunga senilai Rp 38,28 triliun untuk tahun 2025 agar momentum positif penyaluran KUR tetap terjaga. Dengan capaian semester pertama yang menggembirakan, Airlangga optimistis target penyaluran KUR hingga akhir tahun akan terlampaui.

"KUR, Kredit Alsintan, KIPK, dan berbagai program pembiayaan Pemerintah bukan hanya soal modal, tetapi juga harapan. Melalui inovasi berkelanjutan dan kerja sama semua pihak, KUR akan terus menjadi tulang punggung pemberdayaan ekonomi rakyat menuju Indonesia Emas 2045," pungkas Airlangga.

Editor: Gokli