Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Industri ICT Jadi Kunci Dorong Target Ekonomi 8 Persen, Pemerintah Siapkan Strategi Rantai Pasok dan AI
Oleh : Redaksi
Sabtu | 12-07-2025 | 11:28 WIB
ICT.jpg Honda-Batam
Wamenperin Faisol Riza, saat kunjungan kerja ke perusahaan perakitan elektronik PT Sat Nusapersada di Batam. (Foto: Kemenperin)

BATAMTODAY.COM, Batam - Pemerintah menaruh harapan besar pada sektor industri teknologi informasi dan komunikasi (ICT) sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, guna mencapai target pertumbuhan sebesar 8 persen.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza dalam Focused Group Discussion (FGD) bertajuk 'Potensi Penguatan Industri Elektronika dalam Rangka Pengembangan Industri AI di Indonesia' yang berlangsung di Batam, Kamis (10/7/2025).

"Pemerintah punya harapan dan keinginan besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen. Salah satu sektor yang kami lihat sangat potensial dan memiliki efek besar adalah industri ICT," ujar Faisol Riza di hadapan para peserta FGD, demikian dikutip laman resmi Kemenperin.

Faisol menjelaskan, pemerintah terus mempelajari keberhasilan negara-negara yang lebih dulu sukses membangun industri teknologi tinggi, seperti India, Vietnam, dan Taiwan.

"India misalnya, dalam 10 tahun terakhir berhasil melompat jauh di sektor ICT. Mereka mampu menarik investasi besar dan membangun industri produksi yang kuat. Itu yang sedang kita pelajari dan adaptasi," terangnya.

Ia menambahkan, ekspor masih menjadi instrumen utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui sektor industri pengolahan yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, termasuk produk ICT.

"Ke depan, kontribusi ekspor terus kita pacu dari sektor industri pengolahan. Diharapkan, industri ICT bisa tumbuh lebih besar," imbuhnya.

Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, Faisol menekankan pentingnya kesiapan industri nasional dalam menjadi bagian dari rantai pasok global. "Pertanyaannya, apakah industri kita sudah siap? Apakah bahan baku sudah bisa diolah menjadi komponen industri elektronika yang berkualitas dan siap bersaing?" tegasnya.

Faisol menguraikan, industri ICT memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Bahkan, hanya dalam satu unit telepon genggam, terdapat ribuan komponen yang dihasilkan oleh berbagai industri, mulai dari integrated circuit (IC), central processing unit (CPU), baterai, layar, hingga resistor dan transistor.

"Pemerintah tidak ingin kita hanya menjadi perakit barang jadi dari komponen impor. Kita ingin seluruh rantai produksinya berasal dari dalam negeri. Ini memerlukan dukungan semua pihak, termasuk pelaku industri dan pengelola kawasan industri," kata Faisol.

Wamenperin optimistis, dengan kerja sama lintas sektor, Indonesia mampu membangun infrastruktur industri yang terintegrasi, khususnya untuk sektor elektronika. "Lewat forum diskusi ini, kami ingin mengajak para pelaku usaha membantu pemerintah dalam memproduksi komponen-komponen di dalam negeri," ujarnya.

Sebelumnya, Faisol bersama Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria melakukan kunjungan kerja ke perusahaan perakitan elektronik PT Sat Nusapersada di Batam. Keduanya meninjau langsung proses produksi yang dilakukan perusahaan tersebut dalam mendukung ekosistem pengembangan perangkat elektronik berbasis teknologi informasi.

Nezar menegaskan pentingnya pelaku industri manufaktur nasional segera mengadopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI), agar Indonesia tidak tertinggal dalam kompetisi global. "Industri kita harus segera mengadopsi AI supaya daya saing Indonesia tetap terjaga," tegas Nezar.

Untuk mendukung langkah tersebut, Nezar menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah menyusun peta jalan nasional pengembangan AI yang terukur dan realistis, dengan mempertimbangkan kesiapan sektor industri dalam negeri.

Editor: Gokli