Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Korban Perompakan

Guskamla dan Tim Mabes Polri Kunjungi Tugboat HM Leo I
Oleh : ali/si
Rabu | 05-09-2012 | 22:15 WIB

BATAM, batamtoday - Komandan Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Armada Barat (Armabar) Laksamana Pertama Pranyoto mengunjungi  tugboat HM Leo I yang menjadi aksi perompakan bajak laut yang biasa beroperasi di Selat Malaka dan Singapura.


Guskamla Armabar Laksamana Pertama Pranyoto berkunjung bersama anggota kepolisian dari Mabes Polri dan Ditpolair Polda Kepri di Pelabuhan CPO Kabil, Rabu (5/9) siang tempat tugboat tersebut di sandarkan.

Pranyoto menyatakan, pihaknya terus melakukan pengejaran terhadap bajak laut tersebut, meskipun tidak diminta Polri karena kejadian perompakan terjadi di laut. "Jadi sesuai Pasal 14 Stb 1939 No 442 Jo pasal 110 UU No 17 tahun 1985 dan pasal 439 serta pasal 440 KUHP. TNI AL dapat melakukan penyelidikan dan penyidikan, meskipun tanpa diminta oleh pihak kepolsian, mengingat perampokan tersebut terjadi area perairan," kata Pranyoto.

Penyisiran ke beberapa daerah, kata Pranyoto, untuk mengejar perompak masih terus dilakukan. Ia menyatakan, apresiasi terhadap para awak tugboat HM Leo I yang berani melaporkan aksi perompakan itu kepada aparat penegak hukum di Indonesia. Sebab banyak kejadian perompakan tidak dilaporkan oleh para korban di Indonesia, melainkan dilaporkan ke Singapura.

"Tapi sekarang yang penting patut di syukuri semua personil di kapal selamat semua, dan hanya mengalamui kerugian materil aja," katanya.

Menurutnya, patroli rutin yang di lakukan TNI AL di perairan barat didukung dengan 9 KRI, dan sekitar selat Riau didukung 2 KRI. Namun saat perompakan terjadi, patroli KRI tidak sedang di perairan tersebut dan tengah mengadakan patroli rutin di wilayah perairan lainnya. 

"Pengawasan yang dilakukan KRI di fokuskan di Selat Singapura dan Selat Malaka. Akan tetapi, untuk daerah lain tidak berarti tidak diawasi," katanya.

TNI AL menilai pelaku perompakan diperkirakan perompak yang sudah biasa beroperasi di wilayah tersebut. Wajar bila anggota Polri berjaga-jaga ketika itu, tidak mengetahui adanya perompakan di tugboat karena dilakukan secara profesional dalam hitungan detik. 

Penyisiran untuk mengejar perompak, lanjutnya, telah dilakukan penyisiran di sekitar TKP, perairan Bintan dan Batam bekerjasama dengan kepolisian dan pihak terkait.  

"Kenapa kita lakukan penyisiran di tempat itu karena untuk mengambil kapal, itu tidak mungkin di lakukan di perairan ini. Yang kedua adalah kecepatan kapal yang cukup pelan, yakni 4 knot/jam saat menarik tongkang. Dan kalau pelaku mengambil kapal, mereka membutuhkan banyak waktu untuk merubah bentuk kapal seperti merubah warna cat dan sebagainya. Dan itu tidak mungkin dilakukan," katanya.

Namun Pranyoto enggan mengomentari mengenai adanya perampasan senjata api dan pelurunya yang dilakukan para perompak milik anggota Brimob yang melakukan pengawalan, ketika disinggung hal itu. "Itu bukan kewenangan saya. Karena sudah ada pihak yang lebih berwenang untuk menjawab itu. Tapi perompakan ini merupakan peristiwa yang pertama di tahun 2012 ini," kata Guskamla Armabar,

Di lokasi, Laksamana Pertama Pranyoto didampingi Kepala Intelejen Guskamla Armabar GP Handoko dan Kepala  Pelabuhan CPO Kabil Djoko melihat ruang dapur tugboat HM Leo I yang menjadi lokasi penyekapan para awak kapal dan perampasan senjata anggota Brimob yang tengah mengawal kapal tersebut. Peninjuan juga dilakukan di ruang kemudi yang diambil dan di rusak.

Para awak kapal juga sempat diminta keterangan sebelum dibawa oleh Tim Mabes Polri dan Ditpol Air Polda Kepri untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.