Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Pergeseran Libur Maulid Demi Menghindari Lonjakan Covid-19
Oleh : Opini
Selasa | 19-10-2021 | 14:36 WIB
A-MAULID-NABI.jpg Honda-Batam
Ilustrasi Maulid Nabi Muhammad SAW. (Foto: Ist)

Oleh Ismail

PEMERINTAH menggeser libur Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dari 19 Oktober menjadi tanggal 20 Oktober 2021. Langkah tersebut dilaksanakan untuk menekan mobilitas masyarakat dan mencegah lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia.

Di bulan oktober ini ada tanggal merah di hari selasa, tanggal 19 Oktober 2021, dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad. Akan tetapi liburnya digeser sehari menjadi tanggal 20. Masyarakat sempat kaget, mengapa sampai digeser?

 

Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menjelaskan, pergeseran liburan maulid ini. Tujuannya untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid di Indonesia. Menurut Wapres, pergeseran utamanya karena rata-rata orang memanfaatkan hari kejepit (Senin) ketika selasanya libur. Dalam artian ketika hari libur digeser jadi rabu, mereka tak mungkin cuti di hari senin dan selasa.

Wapres melanjutkan, meski kasus Corona sedang rendah tetapi kita harus mengantisipasi lonjakan pasien. Oleh karena itu, libur maulid tetap digeser, agar orang-orang membatalkan niatnya untuk traveling.

Dalam artian, meski pasien Corona jumlahnya makin sedikit, tetapi jangan gegabah dan liburan sembarangan. Penyebabnya karena bisa jadi bumerang dan akibatnya kasus Covid naik lagi.

Saat ini jumlah pasien Corona (pada awal oktober 2021) jumlahnya relatif rendah, yakni hanya 700-an orang per harinya. Beda dengan 3 bulan lalu ketika meledak menjadi 50.000 pasien per harinya. Akan tetapi kita tidak boleh terlena dengan keadaan ini, karena jika tidak mematuhi protokol kesehatan bisa menaikkan lagi jumlah pasien Covid.

Kita wajib berkaca pada akhir tahun 2020 lalu, ketika libur Nataru (natal dan tahun baru) orang-orang asyik traveling ke mana-mana, padahal masih masa pandemi.

Akhirnya terjadi kenaikan kasus Corona di Indonesia pasca liburan. Ketika ada kenaikan kasus maka memusingkan karena pandemi entah kapan selesainya, akibat orang-orang tidak mau tertib.

Ketika ada lonjakan kasus Corona maka yang juga dikhawatirkan adalah tingkat meninggalnya pasien yang juga tinggi, jangan sampai ada kematian massal. Selain RS jadi penuh dan para nakes bekerja ekstra keras, kenaikan kasus juga berpengaruh pada ibu-ibu. Penyebabnya karena sekolah batal dibuka karena keadaan masih rawan.

Kita patut belajar dari kasus tahun lalu dan jangan sampai terulang. Oleh karena itu pergeseran libur maulud dinilai sangat tepat, karena menyebabkan orang-orang batal liburan atau mudik. Jika liburnya hanya sehari maka paling banter mereka jalan-jalan di dalam kota.

Saat ada hari libur walau sehari, maka boleh saja jalan-jalan di dalam kota, tetapi wajib memperhatikan protokol kesehatan. Apalagi jika membawa anak-anak, harus lebih ketat lagi dalam disiplin prokes.

Jangan bawa mereka ke tempat yang jelas terlarang bagi anak-anak, misalnya di dalam Mall, karena mereka lebih rentan tertular Corona. Masker tetap harus dikenakan, walau di dalam mobil.

Apalagi saat ini Corona telah bermutasi menjadi varian Mu. Virus hasil mutasi diklaim lebih berbahaya, sehingga semua orang harus taat prokes dan tak boleh sembarangan melepas masker. Tetaplah rajin cuci tangan, ganti baju, menjaga kebersihan lingkungan, menjaga jarak, dan juga menghindari kerumunan.

Pergeseran libur maulud nabi, dari selasa ke rabu, oleh pemerintah, dilakukan agar tidak ada yang memanfaatkan harpitnas (hari kejepit nasional). Sehingga jika liburnya rabu, maka senin dan selasa mereka tetap masuk kerja.

Pergeseran memang wajar dilakukan di masa pandemi, agar masyarakat tidak membandel dan traveling seenaknya, lalu terjadi kenaikan kasus Corona.*

Penulis adalah Kontributor Nusa Bangsa Institute Jakarta