Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menyindir dengan Simbol-simbol Budaya
Oleh : Redaksi
Rabu | 29-09-2021 | 15:08 WIB
A-RIDA-K-LIAMSI22.png Honda-Batam
Wartawan senior dan budayawan Kepri, Rida K Liamsi. (Foto: Ist)

Oleh Rida K Liamsi

ESAI yang baik adalah essai yang selalu menyisakan sebuah renungan, yang bahkan memberi ide dan gagasan baru untuk menciptakan karya karya baru. Karya yang baik, adalah karya yang dapat memberikan sesuatu, yang memberi inspirasi yang baru.

Begitu juga dengan cerita pendek. Karya yang tidak hanya selesai dengan pernik dan kaedah sebuah cerpen. Tetapi karya yang mengajak pembacanya untuk merenung, dan menyisakan kesan impresif dalam cerita yang kemudian memberi gagasan baru. Karya yang inklusif.

Kumpulan cerpen "Sang Tokoh" karya Taufik Muntasir (TM) ini adalah kumpulan cerpen yang berhasil seperti yang dikemukakan di atas, yang memenuhi kaedah : karya yang menarik dan menyisakan sisi inspiratif dan ide baru bagi para pembacanya yang cermat dan kritis.

Meskipun hanya 16 buah cerpen, tapi buku ini telah menyajikan cerita-cerita yang menarik, juga tokoh tokohnya yang juga sangat mengejutkan. Memang, kebanyakan tokohnya adalah rakyat biasa atau para politisi yang biasa biasa saja, tapi mereka hidup dan dibesarkan dalam tradisi dan kultur Melayu yang tidak stereotype, seperti yang lazim dikenal.

Kehidupan yang mereka jalani dan perubahan zaman yang mengiringinya, sungguh telah memberi pelajaran moral yang baru, yang berharga .

Paling tidak, kenyataan itu lahir sebagai bagian dari pengaruh setting cerita, seperti Batam atau Riau, sebagai kota yang dinamis dan terus bergelora dalam bancuhan moral kehidupan dan moderenisasi.

Juga tehnologi informasi yang menjajah keseharian mereka. Kondisi latar yang memberi ruang bagi tokoh tokoh untuk ujud dan memainkan perannya.

Tokoh-tokohnya memang rakyat kecil tetapi telah memberi perlawanan yang mengejutkan, terutama secara budaya terhadap tekanan tekanan yang mereka hadapi. Terhadap kekuasan dan politik yang cenderung tidak memihak rasa adil. Kekuasaan yang sudah mengobrak abrik akar dan tradisi budaya, terutama budaya Melayu.

Misalnya dalam cerpen "Raja Salmah ...,". Cerpen ini bukan hanya menunjukkan bagaimana Raja Salmah sebagai penggali pasir melakukan perlawanan moralnya, tetapi keputusan memilih nama tokohnya.

Raja...., menunjukkan betapa orang orang Melayu yang dari golongan atas dan bergelar Raja yang biasanya tidak mau memilih pekerjaan menjadi penggali pasir atau kasar lainnya.

Kini tanpa rasa canggung, mengangkat skop dan menggali pasir. Inilah simbol perlawanan orang orang melayu dalam mempertahankan harkat dan martabat mereka, memburu keadilan.

TM dengan cerdas telah mengeksplore watak dan karakter tokohnya untuk menunjukkan bagaimana perlawanan rakyat kecil terhadap lingkungan kekuasaan yang mendominasi mereka dengan berbagai manifestasi, dan instrumen perlawanan. Melawan dengan cangkul, dengan sindiran, dengan mogok makan, dan juga dengan doa yang keluar dari mulut orang orang yang dizalimi.

Sebagai sastrawan yang berlatar belakang wartawan yang kemudian pindah menjadi politisi, TM telah menggunakan cara kerja dan gaya penulisan seorang wartawan dalam cerpennya untuk mengangkat persoalan kehidupan sehari hari menjadi sebuah karya sastera dengan gaya reportase yang detail, situasional, diskriptif dan terstuktur.

Dalam jurnalistik, sebuah reportase yang mendalam akan mampu mengangkat problem yang menjadi objek liputan menjadi sebuah cerita yang mendalam, kuat dan menggugah, melalui tulisan human interest, features atau liputan investigasi lainnya.

Gaya reportase sudah terbukti menjadi salah satu gaya penulisan sastera yang andal untuk karya prosa. Bukan hanya untuk sebuah karya essai, tapi juga untuk karya sastera seperti cerpen atau novel. Karya karya yang bersandar pada narasi yang menggelitik, dan yang menyajikan klimak peristiwa dari satu moment ke moment yang lain.

Cerpen TM tentang penggali pasir, misalnya, sungguh cerdas dan menunjukkan bagaimana perlawanan lapisan bawah itu bisa menumbangkan arogansi kekuasaan. Cerpen ini, dengan gaya liputan yang detail menemukan sudut peliputan (angel) yang menjadi karya yang sangat menarik dan menggugah.

TM dengan kultur Melayu-nya juga berhasil mengali sisi kearifan lokal dalam menyampaikan protes sosialnya dalam bentuk sindiran, seperti "bau pekong" dalam cerpen Bau Pekong di Kampung Tua.

Dan lain lain cara menyindir dalam budaya Melayu sehingga cerita yang dihidangkannya menjadi sebuah pemahaman baru bagi pada pembaca tentang cara dan etika melayu dalam merespon kehidupan sosial dan lingkungan sekitarnya. Satire satire politik khas Melayu yang terkadang terasa lucu dan hodoh.

Cerpen TM juga kaya dengan simbol dan perlambangan hidup yang diangkat dari kultur dan tradisi Melayu dan bahkan dalam suasana satir itu muncul ide ide liar yang menunjukkan kayanya imajinasinya sebagai cerpenis seperti imajinasi liar tentang tokoh dalam cerpen Sang Tokoh yang menunjukkan bagaimana tehnologi mempermainkan watak dan karakter para tokohnya dalam menghadapi tehnologi.

Atau cerpen tentang perubahan wajah para politisi dan para pendukungnya yang hidungnya menjadi aneh. Hidung telah dieksplore nya menjadi simbol sikap dan prilaku politisi yang ambisius, antagonis dan seperti kacang yang melupakan kulit.

Ke-16 cerpen yang terhimpun dalam kumpulan ini, sudah bisa mewakili sebuah simpulan : inilah gaya perlawanan kalangan bawah terhadap tiranisme kekuasaan yang tidak memihak keadilan.

Inilah gaya reportase yang dapat menjadi sebuah gaya penulisan genre sastera yang bersandar pada narasi yang merupakan keunggulan para cerpenis yang berlatar wartawan. Inilah cerita cerita yang penemuan ide dan angel penulisannya yang merupakan bukti spesialisasi wartawan dalam pengembaraan jurnalustiknya.

TM dengan gaya reportasenya itu berhasil menjaga tegangan dalam alur ceritanya. Menyimpan sisi misteri cerita, dan memberi ending cerita yang membuat pembaca berkerut. Merenung dan juga tersenyum dan kemudian menemukan ide ide baru.

"Mulut orang yang tersenyum menyaksikan peristiwa tersebut, itulah luka pekong yang selalu basah berdarah dan bernanah". Begitu TM menutup cerpennya "Bau Pekong di Kampung Tua". Penutupan yang mengigit.

Cerpen cerpen TM memang memberi inspirasi bagi pembacanya untuk menemukan cerita cerita baru, dan menemukan model model perlawanan kalangan rakyat biasa terhadap tirani kekuasaan.

Tidak perlu dengan kata kata kasar, tidak harus dengan tinju. Dengan tangkai cangkul dan sindiran sindiran yang diangkat dari khazanah kebahasaan seperti bidal dan ungkapan warisan budaya lainnya, maka perlawanan itu juga bisa sampai.

Karya sastera yang baik adalah karya yang menggoda pembacanya untuk membaca karya itu berulang ulang kali. Karya yang tidak menjemukan dan selalu memberi sesuatu.

Kumpulan cerpen TM ini menjadi semakin menarik karena Purwanto, ilustrator yang ilustrasinya menemani tiap cerpen di setiap akhir cerpennya, juga sebuah karya yang sangat menggoda. Menusuk dan menyindir.

Syabas !

2020/2021

Esai ini pada mulanya adalah Kata Pengantar untuk buku kumpulan cerpen Taufik Muntasir. Kemudian saya perkaya lagi.