Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Menikmati Ragam Pangan Fakfak
Oleh : Redaksi
Kamis | 08-04-2021 | 09:40 WIB
menu_papua-01.jpg Honda-Batam
Beberapa menu pangan di Fakfak, Papua Barat. Foto: (Mongabay Indonesia)

HUJAN rintik di Kampung Raduria, Distrik Fakfak Tengah, Papua Barat, awal Maret lalu. Rumah Siti Hajar Uswanas, sedang ramai siang itu. Halaman rumah perempuan 42 tahun itu terbangun tenda besi dengan terpal biru. Beberapa laki-laki dan perempuan terlihat sibuk.

Siti Rohani Iha, perempuan paru baya, terlihat lalu lalang. Beberapa saat dia duduk dan merapatkan punggung di tembok pembatas teras. Di depannya, ada berbagai jenis umbi-umbian. Dia meraih beberapa dan mengupas bersama perempuan lain.

Sembari mengupas bahan pangan itu, mereka terus bercerita dan bercengkrama hingga tertawa terbahak. Tangan mereka terus bergerak cekatan.

Pada bagian lain, daging pala tercacah sampai kecil. Ada juga sedang sibuk memotong kecil daun sayur gedi dan tagas-tagas. Ada yang mengoyak sagu hingga lebur seperti tepung halus.

Masih di sekitaran perempuan-perempuan itu kasbi kering sudah tersedia. Rasanya melihat persiapan makanan itu bagai menyaksikan pertunjukan sosial yang saling terhubung.

Ketika singkong-singkong itu sudah terkupas bersih, mereka merendam dengan air garam. Kemudian mereka angkat dan letakkan ke dekat tempat api. Beberapa potong bambu sudah siap. Bambu ini bagi masyarakat Fakfak untuk tempat masak makanan.

Bambu wedi, begitu namanya. Bambu ini dapat mengeluarkan air ketika terpanggang api. "Pakai bambu ini, masak apa saja bisa," kata Zainuddin Fianden. Zainuddin Fianden adalah Direktur Lembaga Swadaya Masayarakat Aspirasi Kaki Abu untuk Perubahan (AKAPe).

"Jadi, biasa orang tua kalau jalan di hutan atau kebun, bawa bahan makanan. Tidak usah bawa panci, repot. Mau masak pake bambu itu," katanya. "Ini ubi nanti jadi empuk, karena air bambu itu keluar, bersih, segar."

Ketika bambu-bambu yang terisi singkong itu sudah terpanggang beberapa saat, bagian mulut bambu yang terbuka itu mengeluarkan air. Seperti mendidih.

Jared Diamond dalam Guns, Germs & Steel dalam 'Rangkuman Riyawat Masyarakat Manusia' mengatakan, kalau dataran tinggi Papua antara 1.200 dan 2.750 meter di atas permukaan laut ini merupakan wilayah produksi pangan paling awal.

Catatan arkeologi menemukan, kalau sistem kompleks parit air berasal dari 9.000 tahun lalu dan jadi makin ekstensif pada 6.000 tahun silam. Begitu pula terasering yang dapat mempertahankan kelembaban tanah di daerah yang lebih kecil.

Kini, tanaman pangan agrikultur dataran tinggi Papua adalah ubi jalar, talas, ui ungu, tebu, pisang, batang-batang rumput yang bisa dimakan, dan beberapa jenis sayuran. Kalau pada masa awal dunia penelitian, dinyatakan tanaman itu bersumber dari daratan Asia, ternyata terbantahkan.

"Tapi akhirnya disadari, nenek moyang tebu, sayur-sayuran berdaun, dan batang rumput yang bisa dimakan merupakan spesies asli Papua," tulis Jared Diamond.

"Bahwa, jenis-jenis pisang yang dibudidayakan di Papua memiliki nenek moyang liar Papua, dan bukan Asia. Bahwa, talas serta beberapa jenis ubi juga tumbuhan asli Papua."

Karena itulah, kata Jared Diamond, Papua dinyatakan sebagai tempat munculnya agrikultur lokal melalui demestifikasi tumbuhan liar.

Artinya, Papua seperti wilayah Bulan Sabit Subur, Tiongkok, dan segelintir wilayah lain, adalah salah satu pusat kelahiran mandiri domestikasi tanaman di dunia.

Sejarah pandang inilah yang kemudian kembali dihidupkan masyarakat Papua yang saat ini saya saksikan. Mereka memahami bagaimana ketersediaan pangan begitu melimpah. Sumber pangan beragam, tanpa nasi, sebagai sumber karbohidrat, mereka tak masalah.

Di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, kami makan siang dengan lauk kepiting bakau dengan ubi dan talas.

Tak lama, perut saya kembali keroncongan. Di Papua, saya merasakan, bagaimana kebiasaan dalam penyeragaman pangan --dengan nasi-- sangat berpengaruh.

"Kau kenyangkah kalau hanya makan ubi atau talas," tanya saya pada Rian Wertuar, pemuda Distrik Kokas.

"Kenyang toh kak. Bisa tahan itu. Bisa berhari-hari tanpa nasi juga bisa," jawabnya.

Sayur Gedi

Rian Wertuar, 24 tahun, beberapa waktu lalu baru menamatkan pendidikan sarjana di Makassar. Selama menempuh pendidikan di Makassar, salah satu yang menjadi kendalanya adalah makanan. Di pusat kota Sulawesi Selatan itu, dia acapkali merindukan makanan kampung yang sungguh berbeda.

"Saya sampai ke Benteng Somba Opu tuh, minta bunga pepaya orang. Di Makassar, jarang jual bunga pepaya toh," katanya.

"Kalau kasbi (ubi yang sudah dikeringkan), biasa bawa dari kampung. Kalau habis, susah juga. Harus tahan-tahan leher saja."

Di Papua, menyaksikan pangan masyarakat beragam, saya memahami keluhan Rian ketika di Makassar. Saya yang berasal dari Sulawesi Selatan, merasa jauh tertinggal dengan beragam sumber pangan yang terhidang di meja orang-orang Papua. "Ini sayur gedi. Coba makan," kata Hajar Uswanas.

Saya menjumput sedikit dan mencoba menguyah. Nikmat. Gurih dan beraroma. Gedi biasa warga tanam di sekitar rumah. Ada juga jenis tanaman ini, batang bertulang dan tidak.

Salah satu, ada mirip dengan tanaman singkong dengan daun bertangkai dan berjari. Gedi bukan hanya untuk sayur. Masyarakat meyakini tanaman ini sebagai herbal untuk memperlancar proses persalinan.

Perempuan-perempuan yang memasuki usia kehamilan tua, disarankan rajin memakan sayur ini. Tanaman ini niasa lebih efektif kalau daun direbus, tanpa garam dan air didinginkan lalu diminum.

"Papua ini kaya. Apa saja bisa tumbuh. Tanaman untuk makan, untuk obat, untuk ekonomi juga. Apa saja toh," kata Rohani.

Papua, dengan kekayaan alam melimpah penduduk banyak memiliki pilihan sumber pangan. Buah merah, salah satu yang dikenal luas sebagai buah kaya manfaat. Tak hanya jadi obat-obatan, buah merah Papua juga memiliki kadar minyak tinggi.

Selain itu, ketika buah merah dilepas dari tandan dan direndam, sisa air bisa untuk memasak nasi. "Nanti nasi jadi seperti nasi uduk, karena ada minyaknya. Warna nasi juga merah," kata Zainuddin.

Jenis talas pun tak kalah bikin mempesona. Radani, warga Kokas mengatakan, talas di Papua, banyak jenis. Dia lebih suka menanam talas lokal biasa disebut keladi negeri atau khomo.

Menanam khomo, perlu tujuh bulan baru panen dengan hasil satu isi. Bagi Radani, rasa khomo lebih nikmat dibanding keladi yang banyak jadi budidaya saat ini.

"Kalau keladi sekarang tangkai pendek itu usia panen enam bulan. Kalau tangkai panjang satu tahun. Itu keladi isinya ada banyak, tapi kurang cocok rasa," katanya. "Tanam keladi yang isi banyak cocok untuk jual saja."

Sumber: mongabay.co.id
Editor: Yudha