Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Gagal Kudeta, Moeldoko di Tengah Fakta, Sakit Hati dan Ambisius
Oleh : Opini
Rabu | 03-02-2021 | 14:20 WIB
A-MULDOKO-CIUM-TANGAH.jpg Honda-Batam
Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Moeldoko mencium tangan Presiden SBY. (Foto: Ist)

Oleh Himawan Sutanto

KETIKA AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat melakukan jumpa pers di taman politik kantor DPP Partai Demokrat dan mengirim surat ke Jokowi sebagai Presiden RI, menjadi isu bola liar di tengah pandemi.

Banyak yang mempertanyakan ada apa? Sebab Partai Demokrat selama ini tampak adem ayem dan tidak memiliki isu politik yang menarik selain kegiatan pembagian masker, alat APD, dan membantu korban banjir di berbagai daerah.

Kudeta Gagal

Pernyataan adanya kudeta atau pengambilalihan kekuasaan secara ilegal yang dimotori oleh Nazarudin, Jhoni Alen, dan Moeldoko menyeruak bak bola panas ditujukan ke istana. Dan malamnya Moeldoko melakukan klarifikasi via online, setelah Andi Arief menyebutnya di akun Twitternya bahwa Moeldoko orang di balik rencana kudeta tersebut.

Selang beberapa jam dari pernyataan Moeldoko, klarifikasi dibalas dengan cuitan Rachland Nasidik yang mengatakan "Bohong pertemuan itu tidak di rumahnya, tapi di hotel Rasuna di Kuningan".

Kemudian beredar foto-foto pertemuan yang dihadiri oleh Nazarudin, Jhoni Alen, dan beberapa ketua DPC Demokrat dari berbagai daerah.

Celakanya, rencana itu bocor, karena yang hadir menyampaikan ke DPP bahwa ada pertemuan yang menginginkan adanya KLB. Kemudian para kader dan pengurus DPC dari berbagai daerah di-BAP di DPP dan memberikan keterangan secara lengkap adanya gerakan inskontitusional ke Partai Demokrat.

Hasil pertemuan baru diketahui bahwa Moeldoko secara licik menemui para kader Demokrat yang pernah dipecat, keluar, dan aktif dari Partai Demokrat memang mau melakukan kudeta Ketum Partai Demokrat, AHY.

Akan tetapi belum sempat melakukan kegiatan sudah lebih dulu diserang sama kader Demokrat via media sosial. Rencana kudeta masih saja terus berlangsung dengan diadakan jumpa pers yang dipimpin Darmizal yang notabene telah keluar partai lalu menjadi relawan Jokowi di Pilpres 2019 lalu.

Jumpa pers tersebut mengatasnamakan senior dan pendiri Partai Demokrat, yang sangat tidak masuk logika ketika sudah di luar partai tapi menyatakan senior. Pertanyaannya adalah, apakah senior bisa mengatur kembali ketika sudah di luar partai?

Sakit Hati dan Ambisius

Kehadiran Nazarudin dalam pertemuan tersebut adalah bukti bahwa gerombolan sakit hati kepada Partai Demokrat tampak jelas sekali. Sebab Nazarudin adalah terpidana kasus korupsi di beberapa proyek Hambalang dan lainnya, dan dihukum lebih dari 5 tahun dengan Anas Urbaningrum.

Nazarudin sepertinya memfalitasi pertemuan tersebut untuk mengambil kekuasaan Partai Demokrat dengan memanfaatkan Moeldoko dari KSP sebagai orang yang memiliki ambisi jadi capres pada 2024.

Sementara Moeldoko seorang ambisius dengan latar belakang seorang jenderal dan mantan Panglima TNI merasa layak jadi Presiden. Ambisi boleh, cuma caranya saja yang salah dan kurang tepat.

Barangkali Moeldoko harus belajar banyak dari AHY, seorang pensiunan mayor. Sebab kalau mau masuk politik harus menjadi anggota partai dulu dan mengabdi di partai.

Bahwa Partai Demokrat adalah partai dengan kader yang memiliki masa depan lebih bagus dan diisi para anak muda, yang tentunya lebih cerdas dan kreatif. Moeldoko lupa bahwa dirinya sebagai Kepala KSP Jokowi selalu melekat di pundaknya di manapun dan kapanpun berada.

Saya jadi ingat sebuah negara, Venezuela, di mana pemimpin oposisi Juan Guaido berupaya membangun rasa keniscayaan untuk rencananya menyingkirkan sang presiden, Nicolas Maduro. Namun dukungan militer yang dia harapkan tak pernah muncul.

Penulis adalah Koordinator Jaringan Nusantara

Sumber: RMOL
Editor: Dardani