Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Dukungan Pemerintah pada Riset Pengembangan Obat Covid-19
Oleh : Opini
Jum\'at | 03-07-2020 | 13:36 WIB
ilustrasi-penelitian-vaksin1.jpg Honda-Batam
Ilustrasi riset obat covid-19. (Foto: Ist)

Oleh Raavi Pahlevi

CORONA sebagai penyakit yang membuat kita pusing akhir-akhir ini, akhirnya bisa dibasmi dengan obat baru. Para peneliti dari Unair yang bekerja sama dengan BIN dan BNPB telah menemukan beberapa jenis kombinasi obat yang dijamin lebih ampuh daripada obat yang lama.

Pemerintah mendukung penuh pengembangan dari obat ini dengan memberi suntikan dana dan juga mendistribusikannya kepada banyak Rumah Sakit yang menangani pasien covid-19.

 

Chloroquine sudah terkenal namanya sebagai obat yang cocok untuk mengatasi penyakit corona. Namun ternyata ada beberapa efek samping seperti mual, muntah, dan pusing berat. Bahkan ada pasien yang ternyata alergi dengan chloroquine. Sehingga harus diberi obat lain untuk menyembuhkannya.

Sekarang sudah ditemukan kombinasi dari beberapa obat yang diklaim bisa melawan keganasan corona. Kombinasi obat ini adalah hasil dari penelitian oleh para ilmuwan dari Universitas Airlangga Surabaya, yang bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Intelijen Negara. Ada 5 jenis kombinasi obat yang diberikan kepada pasien, dan dosisinya tentu ditentukan oleh dokter yang menanganinya.

Kombinasi obat untuk melawan virus covid-19 antara lain lopinovir/ritonavir dengan azithromicyne, lopinavir/liponavir dengan chlaritromycine, lopinovir/ritonavir dengan doxycyline, hidroksiklorokuin dengan azithomycine, dan hidroksiklorokuin dengan doxycycline.

Dosis obat ini sengaja dikurangi jadi sepertiganya, karena dipadukan dengan obat lain. Penemuan ini menjadi harapan baru bagi pasien corona yang masih terkulai lemas di ruang isolasi.

Meski hasil penelitian ini sudah diumumkan, namun pemerintah masih belum mengizinkan obat-obatan ini untuk dijual kepada khayalak ramai. Hal ini untuk mencegah terjadinya pembelian obat corona secara sembarangan di pasar gelap.

Ketika hal ini terjadi, tentu akan gawat karena bisa disalahgunakan. Terlebih, ternyata butuh waktu setidaknya 10 hingga 15 tahun dari awal penelitian suatu obat, agar bisa dijual untuk umum.

Jika Anda nekat membelinya melalui online shop luar negeri, tanpa resep dokter, maka bisa berbahaya. Karena tidak tahu seberapa dosisnya. Apalagi ini jenis obat untuk mengatasi penyakit corona, bukan mencegahnya.

Jadi percuma saat tubuh masih sehat tapi Anda nekat meminumnya. Malahan nanti akan muncul masalah baru di tubuh, sebagai akibat dari konsumsi obat yang sembarangan.

Dokter Purwati sebagai ketua pusat penelitian dan pengembangan stem cell di Universitas Airlangga menyatakan bahwa sudah diproduksi ratusan obat untuk mengatasi corona.

Mengapa hanya ratusan yang diproduksi sedangkan jumlah pasien yang terjangkit virus covid-19 mencapai puluhan ribu? Ternyata masih ada tahap uji klinis sebelum obat ini benar-benar resmi di-launching.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Doerban menyatakan bahwa sebelum kombinasi obat ini disebarkan ke Rumah Sakit yang ditunjuk oleh pemerintah, maka harus diuji langsung ke pasien corona.

Untuk tahap awal, ada 1.000 pasien yang diberi kombinasi obat ini di Jakarta. Jika berhasil baru bertahap ke daerah lain. Saat uji klinis tentu pemerintah juga membantu dengan mempermudah birokrasi dan memberikannya langsung kepada pasien dengan gratis.

Ketika uji klinis ini sudah dinyatakan sukses, maka kombinasi obat akan langsung didistribusikan ke banyak Rumah Sakit. Jadi, para pasien dan keluarganya diharap sabar agar bisa mendapatkannya. Pemerintah nanti juga akan membantu untuk menyebarkannya ke RS yang ditunjuk untuk mengatasi pasien covid-19.

Pemerintah sangat mendukung penelitian akan kombinasi obat baru untuk mengatasi corona. Laboratorium di Universitas Airlangga Surabaya menjadi tempat untuk menemukan kombinasi obat baru yang ampuh untuk mengatasi virus covid-19.

Selain itu, pemerintah juga mendukung adanya uji klinis obat dan juga memperlancar proses distribusinya ke banyak Rumah Sakit.*

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Pakuan Bogor