Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

ESAI AKHIR ZAMAN MUCHID ALBINTANI

Teori Azab
Oleh : Dr. Muchid Al Bintani
Senin | 06-04-2020 | 13:00 WIB
ilustrasi-azab.jpg Honda-Batam
Ilustrasi azab. (Foto: Ist)

PADA Mulanya diskenariokan dengan makar [by design], akhirnya berubah menjadi kecelakaan [by accident].

Istilah diskenariokan yang berakhir kecelakaan, tanpa desain dalam tatanan kehidupan manusia beriman menyebutnya dengan istilah azab. Oleh karena akibat dari kesalahan yang pernah, atau sedang dilakukan berasaskan desain besar [grand design].

Dalam hubungan dengan kesalahan itulah, terdapat adagium mashur terkini menghiasi media sosial bahwa, "Iman tak dapat menyiapkan obat, namun dapat mempersiapkan manusia menuju kematian. Sementara, sains [pengetahuan] dapat menemukan obat, tetapi tidak dapat membantu menghadapi kematian."[Twitter @Fahrihamzah 3/4/2020].

Adagium Arif nan bijak tersebut mengispirasi sekaligus menginisiasi hubungan kontekstual antara kematian dan iman. Ikhwal akhir zaman, hubungan ini dapat menjustfikasi ketakberdayaan sains [pengetahun] menghadapi fenomena jelang kematian.

Covid-Songo [CS] yang selalu diasosiasikan dengan azab-musibah [penyebab histeris], dampak jangkitan, belum ada obatnya, serta inkubasi kematian yang tak terduga, seolah-olah tidak berhubungan antara sains [pengetahuan], kematian, dan iman [ke-iman-an].

BACA: Manusia dan Ummat

Bersandar pada hubungan tersebut [pengetahuan, kematian dan keimanan], esai akhir zaman berupaya meneroka secara akademis hubungan kematian dan azab bersandar pada variabel iman.

Dalam konteks pengetahuan yang tak dapat membuka tabir, 'semua yang hidup [bernyawa] pasti mati'. Kecemasan menyambut kematian karena CS pun, membuktikan jika iman berkorelasi positif [mempunyai hubungan signifikan] dengan azab.

Dari sini korelasi tersebut dapat dijelaskan secara akademis, jika azab dapat diteorikan. Sebagai studi awal, paling tidak rujukan sejarah qurani memberikan referensi bijaksana.

Kisah dua manusia, Namrud dan Firaun adalah menyoal hubungan azab dengan kesombongan. Sementara, kisah Luth dari negeri Sodom [Gamora], memperkuat hubungan azab dengan kemungkaran prilaku [ke-adab-an berprilaku mungkar dari kaum Sodom].

Covid-Songo dalam konteks akhir zaman merepresentasikan dua prilaku yang manyatu [terintegrasi] antara kesombongan penguasa zalim [yang dipertontonkan manusia dalam men-tuhan-kan teknologi-senjata, dahulu seperti Namrud dan Firaun] dan pembangkangan-munkar [yang mengatasnamakan HAM, men-tuhan-kan kesetaraan, seperti lakon kaum Luth], secara simultan-inheren [bersama-melekat] mempraktikan kesombongan dan pembangkangan terhadap kodrat ilahiah nurani kebenaran yang diperintahkan untuk terus dilanggar.

Sederhannya, simultansi kesombongan plus pembangkangan dianologikan [sebagai perumpamaan] oleh jutaan manusia dalam kebiasaannya mengkonsumsi khamar [minuman keras memabukan].

Perumpaaan adalah realitas ironi, manakala pengetahuan tak sanggup menunjukan [menuntun] jika para produser, penjual dan peminum khamar adalah keliru dalam konteks ke-manusi-an.

Sementara cara pandang qurani secara analogis-akademis dengan mudah dapat mengidentifikasinya. Dengan arif-bijak referensi qurani menyebutkan dengan tegas jika meminum khamar [jutaan atau bahkan miliaran manusia peminum] adalah termasuk perbuatan syaitan.

Pertanyaanya: apakah syaitan dapat dilihat? Secara teori, pendekatan azab dengan jelas dapat mengidentifikasi wujud dan sosok syaitan.

Lalu, apakah para penyuka khamar adalah syaitan? Tepuk dada tanya selera.*


Muchid Albintani adalah guru di Program Pascasarjana Sain Politik, konsentrasi Manajemen Pemerintahan Daerah, dan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Riau.

Pernah menjadi Dekan (diperbantukan) di FISIP Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, dan Direktur Universitas Riau Press (UR Press). Meraih Master of Philosophy (M.Phil) 2004, dan Philosophy of Doctor (PhD) 2014 dari Institut Kajian Malaysia dan Antarabangsa (IKMAS), Universiti Kebangsaan Malaysia.

Selain sebagai anggota dari The Indonesian Board of Hypnotherapy (IBH) Jakarta juga anggota International Political Science Association, Asosiasi Ilmu Politik Internasional (IPSA) berpusat di Montreal, Canada. ***