PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Virus Corona sudah Menjangkiti 'Software Ekonomi' Pemerintahan Jokowi
Oleh : Irawan
Minggu | 16-02-2020 | 15:05 WIB
arief_puyuono17.jpg honda-batam
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Puyuono, mengatakan krisis ekonomi dan rontoknya nilai tukar rupiah, serta perlambatan perekonomian nasional tidak bisa dihindarkan saat ini.

Hal itu, kata Arief, disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk akibat penanganan virus corona di China yang belum menemukan titik terang.

Menurut dia, hal ini menyebabkan industri-industri di Provinsi Hubei tempat asal virus corona tersebar, masih belum ada aktivitas sejak liburan tahun baru imlek .

Begitu juga dengan provinsi provinsi lainnya di China yang belum semuanya aktivitas produksi berjalan. Tentu saja ini akan memberikan dampak dengan menurunnya PDB di China di kwartal pertama 2020 hingga mencapai 1,28 persen.

Sehingga berakibat terjadi penurunan terhadap pertumbuhan China hingga 1-2 persen di tahun 2020, di mana pertumbuhan China yang diprediksi dikisaran 6 persen di tahun 2020 bisa turun menjadi 4,5-5 persen nantinya

"Melambatnya pertumbuhan ekonomi China ini juga berdampak bagi negara lain. Indonesia tedampak yang paling besar jika dibandingkan negara lain, karena China merupakan tujuan utama ekspor Indonesia," kata Arief dalam keterangannya, Minggu (16/2/2020).

Arief menilai gejolak ekonomi China berdampak lebih besar ke pertumbuhan ekonomi di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain. Saat ini, 20% tujuan ekspor Indonesia adalah ke China.

"Apapun yang terjadi pada Produk Domestik Bruto (PDB) China akan berpengaruh terhadap PDB Indonesia. Setiap penurunan pertumbuhan ekonomi China 0,5% akan berdampak terhadap penurunan ekonomi Indonesia sebesar 0,1%," katanya.

Politisi Partai Gerindra berpendapat apabila perekonomian China terus melambat selama 4 kuartal, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun sebesar 1.68 %

"Artinya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan di bawah 5 persenan," tandas Arief Puyuono.

Hubungan ekonomi Indonesia dengan China dalam 10 tahun terakhir ada 3 channel yaitu, trade, financial, dan commodity price channel

Saat ini, kondisi perdagangan Indonesia amat bergantung kepada China. Indonesia memandang China sebagai tujuan utama ekspor barang-barang dan komoditas, serta sebagai sumber pembiayaan investasi proyek proyek infrastruktur dan masuknya investasi investasi ke Indonesia untuk bisa CILAKA ( Cipta Lapangan Kerja) karena itu salah satunya membuat Omnibus Law.

"Kondisi perdagangan Indonesia bergantung dari China. China saat ini menjadi tujuan utama ekspor Indonesia, ekspor ke China meningkat drastis dari sisi nilai dan volume," ungkapnya.

Komoditas yang diekspor ke China antara lain batu bara, karet, nikel dan minyak sawit

Tragedi Grey Rhinos, black swan ( krisis hutang ), serta serangan Virus Corona di China, lanjutnya, menjadi faktor yang sangat besar dalam mempengaruhi berkurangnya ekspor Indonesia ke China sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Akibat ekspor menurun otomatis, serta terus tidak terkendalinya impor maka akan berdampak pada makin loyonya nilai kurs rupiah terhadap dollar

Begitu juga disektor pembiyaaan proyek infrastruktur dan masuknya investasi dari China akan banyak ditunda nantinya , serta dimungkinkan akan banyak investor China yang menanamkan investasi nya di pasar keuangan Indonesia.

"Nah Joko Widodo (Presiden Jokowi) harus mempersiapkan Contengency plan untuk bisa terhindar dari krisis ekonomi.. Karena Virus Pelemahan Ekonomi sudah menyerah Software software perekonomian nasional seperti menurunnya industri pariwisata, pusat perbelanjaan ,restoran, industri jasa penerbangan yang mengandalkan turis dari China," katanya.

Editor: Surya