PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Produk Luar Negeri Beredar Luas di Tanjungpinang, Isdianto: Harus Miliki Izin Lengkap
Oleh : Redaksi
Kamis | 05-12-2019 | 19:52 WIB
produk-asing-no.jpg honda-batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Plt Gubernur Kepri, H Isdianto mengakaui bahwa produk luar negeri banyak beredar di Tanjungpinang.

Hal ini, kata dia, sudah terjadi sejak dulu. Di mana, Kota Tanjungpinang memang berdekatan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Meski demikian, Isdianto meminta agar masyarakat lebih cinta dengan produk sendiri. Sementara produk luar negeri yang beredar luas itu juga harus memiliki izin yang lengkap.

"Produk asing yang masuk ke Kepri harus memiliki izin, tidak boleh dijual secara ilegal karena merugikan negara," tegas Isdianto, Rabu (4/12/2019) seperti dikutip situs resmi Diskominfo Kepri.

Produk kebutuhan pribadi maupun rumah tangga yang berasal dari berbagai negara digemari masyarakat Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, meski tidak memiliki label Stadar Nasional Indonesia (SNI).

"Saya menyukai produk dari Singapura dan Malaysia, karena bagus, tahan lama dan kemasannya menarik," kata Nita, salah seorang warga di Tanjungpinang, Rabu.

Harga pakaian yang diimpor dari Singapura maupun produk lainnya rata-rata lebih mahal dibanding produk yang berasal dari Jakarta dan Bandung. Begitu pula dengan produk makanan yang berasal dari Malaysia dan Singapura, harganya lebih mahal dibanding produk nasional. Produk makanan, khususnya memiliki label izin impor.

"Kami sejak dahulu sudah terbiasa mengonsumsi makanan kemasan dari Singapura. Rasanya memang beda dibanding produk nasional," ucap Lisa, warga lainnya.

Sementara produk mainan anak-anak dan kebutuhan rumah tangga dari China dijual murah di sejumlah toko di Tanjungpinang. Bahkan ada toko yang berani menjual produk tanpa label SNI itu dengan harga rata-rata Rp 10.000.

"Harganya jauh lebi murah dibanding produk lokal dan nasional. Kami beli meskipun kurang berkualitas," tutur Lili, pengguna produk luar negeri.

Editor: Gokli