PKP
Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Polisi Beber Aliran Dana Buat JAD dari WNI di Afghanistan
Oleh : Redaksi
Rabu | 24-07-2019 | 09:16 WIB
humas-mabes-polri2.jpg honda-batam
Kepala Biro Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo (tengah. (Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Polisi membeberkan aliran dana ke kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Indonesia yang diperoleh dari Saefulah alias Daniel alias Chaniago, seorang penjaga perpustakaan di Ponpes Ibnu Mas'ud, Bogor, Jawa Barat. Saat ini Saefullah diyakini berada di Khurasan, Afghanistan dan tengah dalam pengejaran oleh tim Densus 88 Antiteror.

Kepala Biro Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan dalam menyalurkan dana itu, Saefulah merekrut Novendri sebagai kaki tangannya. Novendri sendiri telah ditangkap di Padang, Sumatera Barat pada Kamis (18/7) lalu.

Saefullah diketahui menerima duit dari sejumlah orang di beberapa negara. Duit-duit itu kemudian disalurkan ke JAD untuk kegiatan terorisme lewat Novendri.

"Saudara Saefulah ini menerima beberapa aliran dana, ini aliran dana dari negara Trinidad Tobago ada tujuh kali, dari Maldives ada satu kali, Venezuela satu kali, Jerman dua kali dan Malaysia sekali," tutur Dedi di Mabes Polri, Selasa (23/7).

Dedi menyebut Saefulah telah menerima aliran dana untuk aksi teror itu sejak Maret 2016 hingga September 2017 melalui Western Union. Total dana yang diterima mencapai Rp413.169.857.

Pengirim dari negara Trinidad Tobago diketahui bernama Yahya Abdul Karim, Fawaaz Ali, Keberina Deonarine, Ricky Mohammed, Ian Marvin Bailey, dan Furkan Cinar. Kemudian pengirim dari Maldives bernama Ahmed Afrah dan Muslih Ali.

Lalu, pengirim dari Venezuela yakni Pedro Manuel Moralez Mendoza. Sedangkan pengirim dari Jerman bernama Mehboob Suliman dan Simouh Ilyaas. Terakhir, pengirim dari Malaysia bernama Jonius Ondie Jahali.

Dedi mengungkapkan Saefulah diketahui pernah mengatur perjalanan untuk kelompok Muhammad Aulia ke Khurasan. Namun, kelompok itu dideportasi di Bangkok pada 13 Juni 2019 dan kemudian ditangkap oleh tim Densus 88 Antiteror di Bandara Kuala Namu.

Dari kelompok itu, polisi masih memburu Abu Saidah yang merupakan orang suruhan Saefullah untuk bertemu dengan Novendri di Mal Botani Bogor pada September 2018 guna memberikan uang sebesar Rp18 juta.

Uang yang diterima Novendri tersebut, sebanyak Rp16 juta diantaranya diserahkan ke pimpinan JAD Bekasi untuk membuat bom. Kelompok JAD Bekasi sendiri telah diringkus oleh tim Densus 88.

Dedi menuturkan Saefulah juga diketahui menyuruh Novendri memberikan dana ke Mujahidin Indonesia Timur (MIT) untuk keberlangsungan kelompok tersebut.

Saefulah diketahui juga berencana mengirim dana ke anggota JAD Kalimantan Timur bernama Yoga untuk membeli senjata dari Filipina dan diselundupkan ke Indonesia. Yoga telah ditangkap pada Juni 2019 lalu. Ia diketahui Yoga berperan sebagai perantara JAD Indonesia dan jaringan teroris Filipina di Malaysia.

Lebih lanjut, Dedi menyampaikan saat ini tim Densus 88 kembali melakukan pemetaan untuk mengidentifikasi kembali napi teroris yang sudah keluar dari tahanan, deportan dari Suriah yany masih ke Indonesia, serta mengejar para DPO.

"Jaring komunikasi polisi Indonesia kita aktifkan dengan kepolisian Filipina, Malaysia, Afghanistan. Ini untuk mencegah aksi terorisme terstruktur oleh JAD," ucap Dedi.

Tim Densus 88 Anti Teror menangkap Novendri di rumahnya yang beralamat di Jalan Perintis Kemerdekaan, Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumbar, Kamis (18/7) lalu.

Dalam penangkapan itu, tim Densus 88 turut menyita barang bukti berupa laptop, paspor, lima keping CD tentang kajian Daulah, satu buku tauhid Aman Abdurrahman, satu buah panci kecil, lima buah gulungan kawat, satu buah sambungan pipa kecil, dan sebagainya.

Novendri diketahui memiliki koneksi jaringan JAD baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Novendri disebut telah merencanakan aksi teror saat acara peringatan HUT Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang. Novendri juga telah memetakan wilayah Polda Sumbar, Polresta Padang, hingga pos polisi lalu lintas sebagai target operasi.

"Dia merencanakan aksi terorisme dengan melakukan memetakan ke beberapa sasaran aksi terorisme khususnya di Sumatera Barat, sasarannya pada Upacara 17 Agustus," kata Dedi di Mabes Polri, Selasa (23/7).

Sumber: cnnindonesia.com
Editor: Chandra