PKP

Ngopi Bareng Asman Abnur

Alam Menginginkan Perubahan di Indonesia
Oleh : Saibansah
Jum\'at | 12-04-2019 | 19:16 WIB
asman-abnur3.jpg honda-batam
Mantan Menetri PAN Asman Abnur (tengah) dan politisi PAN Yudi Kurnain. (Foto: Ist)

LOYAL pada partai politik yang membesarkan dirinya, membuat Asman Abnur meninggalkan kursi Menteri PAN. Padahal, Presiden Jokowi awalnya tidak sependapat dengan keputusan itu. Tapi itulah etika dan idiologi politik. Bagaimanakah idiologi politik Asman Abnur? Berikut penuturannya saat ngopi bareng wartawan BATAMTODAY.COM, Saibansah Dardani.

Jangan bayangkan ngopi bareng mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN), Asman Abnur itu di cafe berhawa dingin, dengan aneka menu kopi wah. Kali ini tidak, kami ngopi di pinggir jalan depan Pasar Mega Legenda, bersama dengan tokoh pemuda, tokoh masyarakat dan pengamen jalanan. Plus, politisi PAN (Partai Amanat Nasional) berambut kuncir, Yudi Kurnain.

Baca: Wakapolri Syahruddin Ditunjuk sebagai Menpan RB Gantikan Asman Abnur

Menunya? Ya aneka menu sarapan kedai pinggir jalan, mie lendir, bubur ayam, lontong sayur, cakue plus kopi O alias kopi hitam khas masyarakat Batam. "Beginilah kegiatan saya tiap pagi, ngopi bersama masyarakat," ujar Asman Abnur, Jum'at 12 April 2019.

Pagi itu, kami ngobrol ngalor-ngidul, mulai dari politik, pendidikan, pertemuan Ustad Abdul Somad (UAS) dengan Capres Prabowo Subianto, hingga hasil 'teropong'-nya atas masa depan pemerintahan Pemerintah Indonesia tahun 2019 ini. "Saya segaris dengan keputusan partai, apa pun keputusan partai saya patuhi. Kalau tidak segaris, saya tidak akan meninggalkan posisi menteri," tuturnya mengenai sikap PAN yang mendukung pasangan Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno.

Padahal, lanjut mantan Menteri PAN itu lagi, saat menyampaikan surat penguduran dirinya sebagai menteri kepada Presiden Jokowi, Selasa malam 14 Agustus 2018 di Istana Bogor lalu, Jokowi tidak sepenuhnya sependapat dengan keputusan Asman tersebut.

Baca: Gagasan Ciamik Transportasi Publik Batam

Tapi toh, akhirnya Presiden Jokowi memahami keputusan Asman Abnur. Ya, keputusan yang didasari pada etika politik dan ideologi partai. "Jika itu yang terbaik, saya tidak bisa menolak," kata Asman menirukan pernyataan Jokowi ketika itu.

Soal etika politik, bagi bos Banda Baru Group itu, seorang politisi harus patuh pada etika politik dan ideologi partai. Seorang politisi yang beretika tidak akan dengan mudah berpindah-pindah partai politik. Karena itu adalah bagian dari ideologi partai PAN. "Saya sepaham dengan ideologi partai, tapi tidak dengan doktrin partai," tegasnya.

Loh, apa bedanya? Ideologi PAN muara tertingginya adalah negara. Sedangkan doktrin parti, muara tertingginya adalah partai. "Itu yang saya tidak setuju," tegasnya. Apalagi, dengan partai politik yang ideologinya bisnis.

Obrolan kami sambil ngopi mulai tersengat terik matahari yang mulai meninggi. Tapi dengan iringan gitar pengamen jalanan, obrolan kami terus mengalir. Meski sesekali 'diinterupsi' oleh beberapa sahabat Asman dan sahabat Yudi Kurnain yang ingin bersalaman dan foto selfie. Maklum, mantan menteri!

Baca: Kado Istimewa Andro untuk Bea Cukai Batam

Obrolan kami pun masuk ke topik peta kekuatan Pilpres 17 April 2019 mendatang. Ternyata, dalam penerawangan Asman Abnur, alam saat ini menghendaki perubahan di Indonesia. "Alam menginginkan perubahan," ungkapnya.

Tapi, lanjutnya, Pilpres adalah pesta demokrasi, pesta politik, tidak ada rumus matematisnya. "Ini politik," kata Asman sambil terus melempar senyum kepada para sahabat-sahabatnya.

Editor: Candra