Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017

Simak Tanda Cedera Kepala Pada Anak Mulai Berbahaya dan Butuh Bantuan Dokter
Oleh : Redaksi
Sabtu | 24-11-2018 | 16:52 WIB
benjol-kepala-anak1.jpg Honda-Batam
Ilustrasi.

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Cedera kepala pada anak adalah salah satu risiko yang sering kali tak dapat dihindari oleh orangtua.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa jatuh adalah penyebab utama cedera yang tidak fatal pada anak semua usia dan menjadi penyebab nomor satu cedera kepala pada anak di bawah 9 tahun.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menyatakan bahwa jatuh dan cedera kepala adalah beberapa penyebab banyaknya anak dibawa ke dokter.

Cedera kepala pada anak pada umumnya terjadi berulangkali pada anak masih di bawah usia 4 tahun. Dimana saat itu, mereka sangat aktif dan banyak bergerak.

Selain itu, cedera kepala pada anak juga mungkin saja terjadi pada anak-anak yang lebih besar, seperti di usia sekolah dasar. Kebanyakan saat bermain bersama teman-teman sebayanya.

Dalam beberapa kasus, cedera kepala pada anak mungkin hanya mengakibatkan pendarahan ringan, benjol, atau memar saja. Namun dalam beberapa kasus lainnya, cedera kepala pada anak bisa berakibat fatal seperti kecacatan dan kematian.

Seperti yang kita ketahui, kulit kepala relatif memiliki pembuluh darah yang lebih banyak dibandingkan kulit lainnya. Oleh karena itu, ada beberapa kondisi cedera kepala pada anak yang patut Moms waspadai membutuhkan bantuan dokter.

Anak usia di bawah 2 tahun, relatif sulit diperiksa dan memiliki risiko keretakan tulang lebih besar.

Risiko cedera kepala anak dianggap tinggi bila terjadi penurunan kesadaran, rasa gelisah, gejala kelainan saraf, tulang yang tampak masuk ke dalam, kejang, didapatkan garis retak atau patah tulang pada kepala, ubun-ubun membonjol, muntah lebih dari 5 kali atau lebih dari 6 jam, dan hilang kesadaran lebih dari 1 menit.

Adapun risiko cedera kepala pada anak dianggap rendah bila jatuhnya tidak tinggi, tidak ada gejala gangguan saraf setelahnya, dan dalam observasi dua jam setelahnya tidak ada kelainan.

Risiko cedera kepala pada anak dianggap sedang bila kepala terbentur keras, mual dan muntah berulang (3-4 kali), terjadi gangguan kesadaran kurang dari 1 menit, anak jadi rewel atau lemas, adanya benjolan besar.

Cedera kepala risiko rendah umumnya tidak perlu pemeriksaan CT scan. Namun untuk risiko cedera sedang dan tinggi, dianjurkan untuk diperiksa dengan CT scan kepala untuk memastikan ada tidaknya perdarahan dalam kepala anak.

Tentunya hal ini pun dibutuhkan evaluasi dari dokter terlebih dahulu. Bila didapatkan hematom/benjolan di kepala sangat dianjurkan untuk dilakukan CT Scan kepala tanpa kontras.

Anak usia di atas 2 tahun juga masih sulit diperiksa, sehingga perlu observasi untuk memastikannya. Observasi dapat dilakukan di RS atau di rumah selama ada orang yang mampu melakukannya.

Observasi terutama dalam 24 jam pertama, dengan pemantauan tingkat kesadaran, kejang, kelumpuhan, sakit kepala, dan muntah berulang.

Pemeriksaan CT scan kepala dianjurkan bila didapatkan anak terkesan tidak sadar penuh, ada perubahan sikap, atau kecurigaan patah atau retak pada tulang.

Baca Juga : Hati-hati Saat Diet, 9 Sayuran Ini Justru Menambah Berat Badan

Perlu dipahami, pada dasarnya cedera kepala ringan pada anak tanpa gangguan kesadaran tidak perlu dirawat di rumah sakit.

Namun anak tetap perlu dipantau selama di rumah dan tidak diberikan obat anti muntah karena dapat mengaburkan gejala.

Pemantauan dapat dilakukan hingga 48 jam dan anak harus dibawa ke RS memberikan gejala-gejalanya:
- Anak tampak tidur terus atau tidak sadar
- Anak tampak seperti bingung atau gelisah
- Kejang
- Anak mengeluh sakit kepala yang bertambah berat
- Muntah berulang
- Keluar darah dari telinga atau hidung
- Ubun-ubun anak tampak membonjol

Saat anak terjatuh atau terbentur, ada beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat Moms lakukan:
1. Kompres bagian kepala bayi yang benjol atau memang dengan es batu. Namun jangan mengaplikasikan es batu secara langsung ke kulit. Sebaiknya gunakan bantuan handuk atau kain lembut untuk mengaplikasikannya selama kira-kira 10 menit.
2. Teruskan mengaplikasikannya es batu setiap 30 menit sekali atau dalam 24 jam pertama.
3. Jaga agar area kepala anak tetap tinggi. Biarkan dia berbaring menggunakan bantal.
4. Untuk mengurangi rasa sakit, Moms bisa memberikan parasetamol khusus anak dengan dosis yang wajar dan hasil konsultasi dengan dokter.

Sumber: Nakita.id
Editor: Yudha